Diam Bukan Pilihan, Mari Berani Melapor dan Bersaksi

Cerdas dan berani. Begitulah dua kata yang dapat menggambarkan sosok Agung Rianto (18). Pelajar SMA di salah satu sekolah negeri di Tulungagung ini menjadi korban pemerasan dan pengancaman pada Rabu (18/10/2017). Meskipun demikian, dengan keberanian dan kercerdikannya, ia dibantu Polisi Polsek Kalidawir Tulungagung berhasil menjebak pelaku.


Dikutip dari tribratanewstulungagung.net, kejadian tersebut berlangsung sekitar pukul 20.30 WIB saat korban dalam perjalanan pulang dari rumah pamannya di Desa Gendingan Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung dengan mengendarai sepeda motor honda beat warna hitam.

Saat melewati jembatan di jalan raya Tunggangri masuk Dusun Ngrawan Desa Tunggangri Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung tiba-tiba dihentikan oleh pelaku yang bernama MUH SAFI”I (37) warga Dusun Ngrawan Desa Tunggangri lalu diajak ketempat sepi di tepi sungai tepi jalan raya Tunggangri.

Di tempat sepi itu pelaku mengaku sudah memiliki nomor plat motor korban. Kemudian pelaku memeras korban dengan memintai sejumlah uang. Agung Rianto yang cerdas enggan untuk memberitahukan uang yang dibawa. Namun, pelaku justru mengincar satu buah Hp merk Samsung Duos yang ditaruh di dashboard depan sebelah kiri.

Saat hpnya diambil, Agung hanya ingin meminta sim cardnya saja. Pelaku kemudian mengatakan jika dalam waktu dua hari kalau tidak bisa menebus HP dengan uang Rp.400.000, maka akan laporkan  ke polisi dengan tuduhan pencurian sepeda motor atau pengedaran narkoba atau membawa perempuan. Pelaku juga melarang Agung Rianto melapor ke polisi bila tidak ingin teman-teman pelaku mencari dan menghajarnya. 

Disinilah letak kecerdikan dan keberanian Agung, dalam keadaan terancam ia justru meminta nomor HP pelaku sambil berkata "apabila kamu membawa teman-teman kamu, uang Rp.400.000 tidak saya berikan". Akhirnya pelaku (terlapor) menyetujuinya, lalu korban pergi pulang setelah kunci motor berhasil dikembalikan oleh pelaku.

Merasa menjadi korban dan terancam, maka Agung melapor kejadian yang dialami tersebut ke Polsek Kalidawir pada hari kamis (19/10/2017)  pukul 08.00 WIB. Disanalah dimulai koordinasi untuk merancang penjebakan dengan SMS dan telepon ke nomor pelaku bahwa uang Rp 400.000 sudah ada dan akan diberikan ke terlapor. 

Rupanya pelapor percaya pada sms dan telpon yang dikirimkan. Buktinya setelah sms dan telpon dijawab terlapor menentukan tempatnya untuk bertemu. Pelaku kemudian minta bertemu di Pos Kamling di Dusun Ngrawan Desa Tunggangri tepi jalan raya Tunggangri sekitar pukul 13.00  WIB. Korban dengan didampingi oleh Polisi Polsek Kalidawir yang melakukan penyamaran bertemu dengan pelaku.

Dan setelah korban menyatakan bahwa memang benar pelaku (terlapor) yang telah melakukan perampasan satu buah HP milik korban, polisi langsung menangkap terlapor dan mengamankannya. Dari dalam saku celana milik pelaku ditemukan barang bukti satu buah HP merk Samsung Dous warna hitam kombinasi putih, lalu tersangka di tangkap dan di gelandang ke Polsek Kalidawir untuk proses lebih lanjut.

Melihat betapa pintar dan beraninya Agung Rianto dalam keadaan terancam, Kapolsek Kalidawir AKP M Ilyas, SH banyak mengapresiasinya. ”Pelajar ini pinter dan berani di bawah ancaman masih berani minta nomer hand phone pelaku yang justru berguna untuk menjebak pelaku dan akhirnya anggota reskrim berhasil melakukan penyamaran lalu menjebak dan akhirnya menangkap tersangka ” ujar Kapolsek dikutip dari tribratanewstulungagung.net.

Pelaku dijerat 2 pasal sekaligus yaitu pasal 368 ayat (1) dan 365 ayat (1) KUHP tentang pemerasan disertai dengan ancaman kekerasan.


Diam Bukan Pilihan

"Sekarang sudah aman dan tenang, Mas!" jawab Agung Rianto.

Setelah kejadian ini, saya berhasil mewawancarai korban yang kebetulan sudah kenal sebelumnya karena pernah berada pada sekolah yang sama dan tempat tinggal yang berdekatan. Dalam kesehariannya, sikap Agung Rianto sangat terbuka pada teman dan terkenal dengan keberaniannya. Sikapnya yang terbuka dan apa adanya inilah yang membuat dia memiliki banyak teman dari beragam latar belakang. Sikap keberanian juga sangat melekat padanya sekalipun berada diancam pelaku kejahatan.

Ketika ditanya tentang tips-tips menghadapi tekanan, Agung Rianto mengatakan, "niat, keberanian, percaya diri, berdoa, yakin, jujur adalah kunci kesuksesan," jawabnya dengan singkat.

Dari kasus yang telah saya paparkan diatas, setidaknya dapat diambil pelajaran berharga. yaitu pentingnya melapor. Keberanian Agung untuk melapor ke pihak kepolisian adalah patut diacungi jempol. Inilah yang seharusnya dilakukan pada semua orang yang menjadi korban atau saksi tindak kejahatan apapun agar tidak takut melapor ke pihak berwenang. Apalagi dengan hadirnya LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) harus semakin melantangkan suara demi menegakkan kebenaran.


Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (disingkat LPSK) adalah lembaga mandiri yang didirikan dan bertanggung jawab untuk menangani pemberian perlindungan dan bantuan pada Saksi dan Korban berdasarkan tugas dan kewenangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang. Dalam sejarahnya, Pada tahun 2001, undang-undang perlindungan saksi dan korban diamanatkan segera dibentuk berdasarkan TAP MPR No. VIII Tahun 2001. Menariknya, ide memunculkan undang-undang perlindungan tersebut bukan datang dari kepolisian, jaksa, aparat hukum ataupun pengadilan, melainkan justru datang dari kelompok masyarakat yang mulai menyadari bahwa perlindungan terhadap saksi dan korban multak dibutuhkan.

Selanjutnya, pada tahun 2003 Indonesia merativitasi UN Convention Against Corruption yang isinya, "Setiap negara peratifikasi wajib menyediakan perlindungan yang efektif terhadap saksi atau ahli dari pembalasan dan intimidasi termasuk keluarganya atau orang lain yang dekat dengan mereka". Sehingga, pada tanggal 11 Agustus 2006 Undang-undang perlindungan saksi dan korban No. 13 tahun 2016 disahkan. Atas amanat  UU No 13 Tahun 2006 tersebut maka pada 8 Agustus 2008 dibentuklah Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban.

Mengutip dari situs resmi LPSK, meskipun menjadi lembaga yang masih berusia cukup muda, yakni 9 tahun, namun LPSK terus berupaya mensosialisasikan tugas dan fungsinya. Upaya tersebut dilakukan dengan berbagai upaya seperti seminar, diskusi, dan upaya lainnya. Diharapkan dengan langkah-langkah tersebut masyarakat semakin paham adanya LPSK dan turut memberikan dukungan kepada saksi dan korban dengan perannya masing-masing. Sehingga, tidak ada lagi para saksi dan korban yang diam atas kejahatan yang terjadi.


LPSK mendorong agar mereka yang mengetahui tindak kriminal, seperti korupsi, persekusi, whistleblower, pemerasan, narkoba, pelanggaran HAM dan kejahatan lain, untuk berani melaporkan ke pihak berwenang tanpa takut menjadi sasaran balas dendam dari pelaku atau teman-teman pelaku.

Menko Polhukam, Luhut Binsar Panjaitan sudah menyatakan bahwa LPSK bisa berperan dalam semua lini, baik dalam penanganan kasus korupsi, narkoba maupun melawan pelaku kekerasan seksual anak. Tentunya semua jenis kejahatan tersebut membawa implikasi yang besar bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Diam bukan pilihan. Dengan diam maka secara tidak langsung turut mendukung tindak kejahatan itu sendiri. Kejahatan akan selamanya lestari jika tak ada yang berani membuka diri. Mengadu ke pihak berwenang adalah pilihan yang harus ditempuh semua orang tanpa perlu ada rasa takut. Tidak hanya korban yang harus melapor atau meminta perlindungan, namun juga masyarakat yang mengetahui kejahatan bisa mengajukan permohonan perlindungan saksi dan korban ke LPSK.
Dari data diatas, dapat diketahui bahwa jumlah laporan ke LPSK dari tahun ke tahun cenderung ada kenaikan. Itu artinya masyarakat mulai berani bersuara dalam mengungkap kejahatan. Ada indikasi akan pentingnya perlindungan terhadap saksi dan korban di masyarakat. Pihak LPSK sendiri memberikan kemudahan pada siapapun yang terancam keselamatan atau keamanan dalam proses hukum untuk mengajukan permohonan melalui beragam cara. Bisa dengan mendatangi kantor LPSK secara langsung, via pos, faksimile, email ataupun regristasi di form online pada website LPSK.



Setelah melakukan regristasi, selanjutkan akan dilakukan pemeriksaan administrasi atau formil dalam kurun waktu sekitar 30 hari. Jika administrasi dinyatakan lengkap, maka akan dilakukan telaah substansi dalam waktu 7 hari. Selanjutnya, akan dibahas dalam rapat paripurna anggota. Jika memenuhi syarat formil dan materil maka permohonan akan diterima. Dalam kondisi darurat, pihak LPSK tidak perlu menunggu surat permohonan dari pemohonan.

Adapun permohonan perlindungan yang dapat diajukan oleh LPSK :

Bahkan jika saksi atau korban mendapatkan ancaman yang dapat membahayakan jiwa dan keselamatan, maka LPSK dapat memberikan identitas baru dan kediaman sementara. Dalam perlindungan yang diberikan LPSK, pihak saksi dan korban tidak dikenakan biaya apapun.

Perlindungan yang diberikan LPSK ini dimaksudkan agar korban dan saksi dapat memberikan keterangan baik sehingga kasus kejahatan terorganisir dapat terungkap. Kehadiran LPSK adalah harapan penegakan hukum di Indonesia. Sinergi LPSK dengan semua lembaga hukum seperti KPK, Polri, Kejaksaan Agung, Kumham, Advokat akan semakin memaksimalkan dalam perannya memenuhi hak saksi dan korban agar semakin optimal. Komunikasi yang apik pada semua stakeholder menjadi dibutuhkan agar kasus kejahatan segera terpecahkan. 


Lantas, masihkan kita diam? Diam berarti setuju dan mendukung atas suburnya praktik kejahatan.  Selamanya akan sulit terungkap jika partisipasi masyarakat tidak kuat. Saksi dan korban tidak boleh diam karena tidak membuat kejahatan meredam. Melapor dan bersaksi adalah pilihan terbaik dalam menegakan kebenaran yang kian pelik. Bukan menjadi persoalan siapa dan dari mana kita berasal, selama mampu bersuara untuk memerangi kejahatan maka LPSK tentu menjamin hak-hak manusia. 

Diam Bukan Pilihan, Mari Berani Bersaksi, LPSK siap melindungi!

Kunjungi www.lpsk.go.id


Referensi:
http://tribratanewstulungagung.net/2017/10/pria-yang-memeras-dan-mengancam-pelajar-ini-akhirnya-meringkuk-di-sel-tahanan/
https://www.lpsk.go.id/berita/berita_detail/2695
http://www.jakartaobserver.com/2016/06/luhut-minta-lpsk-berperan-di-semua-lini.html

6 komentar:

  1. Kalo ada LPSK ini memang bikin nyaman saksi sih...tapi ya mudah2an juga kejadian kriminalitas bisa semakin menurun...ikut ngeri bayanginnya...
    (thejourneyfrida.com)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, semoga kasus kejahatan semakin byk yang terungkapp..

      Hapus
  2. Mantap gan. Semoga angka kriminalitas di Indonesia semakin menurun ke depannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, iya nih, semoga aja semakin banyak para saksi dan korban bersuaraa

      Hapus
  3. semoga langkah LPSK selalu dimudahkan ya, gan

    BalasHapus

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar yang relevan dengan isi artikel
Terima kasih !