Header Ads

Sepucuk Surat dari Penggemar Bulutangkis untuk Indonesia Menuju Asian Games 2018

Bagaimana perasaan kalian melihat Merah Putih berkibar di pucak tertinggi? Apakah kalian tidak merinding saat Indonesia Raya berkumandang di negeri orang? Saat itu semua mata tertuju pada Indonesia berkat olahraga. Jujur, momen-momen inilah yang membuat saya semakin bangga pada Indonesia.

Merah Putih berkibar di puncak tertinggi saat Olimpiade Rio 2016. Foto: beritasatu.com.

Sebagai penggemar bulutangkis sejak 2010, izinkan saya bercerita sejenak tentang bagaimana kiprah para srikandi dan arjuna bulutangkis tanah air ini. Mungkin diantara kalian belum banyak yang tahu. Semoga beberapa paragraf semakin menguatkan spirit demi suksesnya Asian Games 2018 saat kita menjadi tuan rumah.

Pada Asian Games 2014 di Incheon, Indonesia berhasil meraih 2 Medali Emas, 1 Medali Perak, dan 1 Medali Perunggu lewat bulutangkis. Hasil tersebut sangat membanggakan. Tentunya ketika Indonesia menjadi tuan rumah punya harapan mendapatkan hasil yang lebih baik lagi. Cabang olahraga lain harus termotivasi untuk semakin berprestasi. Sehingga akan semakin banyak Indonesia Raya yang berkumandang di Jakarta dan Palembang.

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, atlet bulutangkis peraih medali emas Olimpiade Rio 2016, dipastikan akan berlaga di Asian Games tahun depan. Sekalipun usia Butetsapaan Liliyana Natsirsudah menginjak kepala tiga namun semangat menjadi juaranya masih membara. Atlet kelahiran manado ini punya tekat besar untuk meraih medali emas Asian Games pertamanya karena sebelumnya mendapatkan medali perak bersama Owipanggilan Tontowi Ahmad.

Tontowi/Liliyana meraih medali perak Asian Games 2014. Foto: pbdjarum.

Berbicara tentang Owi/Butet, maka kita harus banyak belajar dari mereka. Owi terlahir dari keluarga muslim sekaligus pernah nyantri di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri. Sedangkan Butet adalah umat Katolik yang taat asal Indonesia Timur. Perbedaan bukan menjadi pengalang untuk berprestasi. Nyatanya mereka dapat bersatu dan kompak demi mengharumkan nama Indonesia.

Saya semakin takjub ketika melihat sebuah momen langka yang sempat terekam menjelang Final Indonesia Open 2017. Owi sedang khusyu' sholat maghrib di pojok ruangan, sedangkan Liliyana Natsir dengan tenang menyaksikan video calon lawan mereka. Ini seperti menampar sebagian orang yang masih menyalahkan perbedaan. Padahal perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindarkan.

Foto: Facebook/Tomi Lebang

Lebih lanjut lagi, coba lihat selebrasi pada saat mereka menjadi juara. Mereka menggunakan caranya masing-masing untuk meluapkan suka cita pada Tuhan. Owi melakukan sujud syukur di atas karpet lapangan sedangkan Butet dengan tenang membuat salib. Owi kemudian berdiri dan memeluk Butet dengan rasa bangga. Semua terasa indah jika kita mampu menghargai satu sama lain. Bukankah seharusnya begitu?

Selebrasi juara yang sederhana penuh makna. Foto: PBSI.
Ini menunjukkan pada dunia, bahwa Indonesia memang penuh keberagaman namun bisa bersatu. Unity in diversity. Bhinneka Tunggal Ika. Tidak salah jika banyak publik mengatakan Owi/Butet sebagai pasangan majemuk atau pancasila karena merepresentasikan Indonesia. Kita tidak sama, tapi kerja sama. Lantas, masihkah kita berdebat tentang keberagaman pada bangsa ini?

Biarkan perbedaan saling menguatkan dan menciptakan kekuatan yang hebat. Akan ada warna-warni perbedaan yang terpancar indah tanpa terpecah belah. Perbedaan bukan menjadi persoalan selama kita bisa menghargai perbedaan. Jangan salahkan perbedaan, kawan!

Selain Tontowi/Liliyana, masih ada nama Greysia Polii yang merupakan peraih medali emas ganda putri Asian Games Incheon 2014. Bagi Greysia, jika dilapangan menjadi lawan namun setelah selesai pertandingan mereka menjadi teman. Perbedaan negara bukan menjadi sekat pemisah dalam merajut tali persahabatan.

Greysia/Nitya saat meraih medali emas Asian Games 2014 Incheon Korea. Foto: pbdjarum.

Pada Greysia kita dapat belajar bagaimana menjadi atlet tidak hanya tentang juara, namun juga bersaudara. Sikap ramah dan hangat pada semua orang membuatnya dekat dengan banyak pebulutangkis luar negeri apalagi dengan modal bahasa inggrisnya yang bagus. Saling berkirim hadiah antar sesama atlet sudah menjadi hal biasa bagi Greysia. Justru dengan itu, para atlet bulutangkis luar negeri suka pada keramahan Indonesia.

Greysia Polii (kiri) bersama Sapsiree Taerattanachai (Thailand). Foto: indosport.com

Kawan, itulah sekelumit pembelajaran hidup dari beberapa pebulutangkis di negeri ini. Masih banyak cerita dari atlet dan cabang lain yang dapat dijadikan teladan dalam merawat keberagaman Indonesia. Maka kita yang hanya sebagai penikmat, penonton atau pendukung seharusnya jauh lebih santun dalam menyikapi perbedaan yang ada.

Kita juga tidak bisa memaksakan setiap atlet harus menang. Jika pun kalah setidaknya mereka sudah berjuang sampai titik darah penghabisan. Dalam olahraga tidak ada hal pasti, bahkan sekalipun peringkat atau ranking di atas kertas unggul bukan jaminan untuk menjadi pemenang.

Kita hanya bisa mendukung dan berdoa, masalah menang atau kalah kita mari kita terima lapang dada. Menghujat bukan menjadi solusi, justru semakin memperburuk situasi. Saya sendiri masih tidak habis pikir pada sekelompok orang atau netizen yang tega membully para atlet yang sudah berjuang sekuat tenaga. Mulai sekarang, kita harus berjiwa ksatria dalam menerima hasil yang ada
Menjadi tuan rumah Asian Games 2018, semoga Indonesia bisa sukses sebagai tuan rumah dan berjaya arena. Atlet-atletnya mampu berprestasi dan semua negara yang berpartisipasi merasakan puas dalam balutan sportifitas. Menyebar energi untuk menyalakan semangat juara. Sebagaimana terpancar dari Logo Asian Games 2018 yang mencerminkan matahari sebagai sumber energi yang menyebar ke delapan jalur ke seluruh Asia melalui ajang Asian Games.


Kepada seluruh rakyat Indonesia dimanapun kalian berada, apapun warna kulit kalian, apapun nama suku kalian, tanpa memandang apa agama kalian, mari bersatu untuk memberikan dukungan dalam suksesnya penyelenggaraan Asian Games 2018. Kesempatan menjadi tuan rumah harus menjadi pembuktian bahwa sekalipun Indonesia penuh keberagaman namun tetap dalam bingkai persatuan. 
Berteriak "In-do-ne-sia..." di bangku penonton atau membagikan tulisan ini di media sosial adalah bentuk kecil dukungan yang berarti untuk Indonesia. Semudah itu memberikan dukungan pada era ini. Esensinya adalah turut menebar energi positif bagi masyarakat Indonesia untuk menyatukan dukungan demi Indonesia Juara!

Saya yakin, bulutangkis dan cabang olahraga lain bisa menujukkan yang terbaik untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa. Ayo teruslah berkobar, karena kita adalah energi. 

#RoadToAsianGames2018 #DukungBersama #EnergiAsia #BelaIndonesia

8 komentar:

  1. Saya juga suka bulutangkis walaupun ga jago :)
    Maskotnya sekarang ada 3 ya? Lucu2...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kah? siapa nih atlet favoritnya?
      bener maskornya ada tiga, yang burung cendrawasih namanya "Bhin Bhin", rusa bawean itu "Atung", dan badak bercula satu dikasih nama "Ika". keren..!

      Hapus
  2. Saya suka nonton bulu tangkis, tapi ada rasa deg-degan gitu kalau nonton indonesia vs negara lain....takut kalah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya tapi kalau menang jadi semangat kan, makin bangga dengan Indonesia. di Jogja kapan hari itu jadi tuan rumah kejuaraan dunia junior loh

      Hapus
  3. semoga Indonesia berjaya saat menjadi tuan rumah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat, kalau libur kita nonton asian games yukm

      Hapus
  4. semoga indonesia kembali bangkit di asian games 2018 ini

    BalasHapus

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar yang relevan dengan isi artikel
Terima kasih !

Diberdayakan oleh Blogger.