CERPEN PERSAHABATAN

CERPEN TEMA PERSAHABATAN

Semburat merah jingga. Menyemburkan rekah kerinduan yang tak berhingga. Pada satu wajah, yang sekelebat kulihat. Sebentar lagi matahari akan tenggelam ke peraduannya. Tiba-tiba aku ingin menyentuh ujung jarinya. Ia terkesiap dan menatap mataku dalam-dalam, seakan-akan berkata, “Jemput Ibu, sayang?” Dan saat itu, rindu padanya tak terbendung,
Kedua kaki kecil menuntunku menyusuri tempat tak berpenghuni . Hutan adalah sekian tempat yang aku benci di dunia. Orang yang aku sayang telah hilang tertelan ganasnya hutan alam ini. Wahai hutan yang jahat, kembalikan Ibuku. Aku masih ingat ketika ranting-ranting itu, diambilnya. Tapi sekarang ranting itu diam membisu tak berikan petunjuk. Aku memang masih beruntung bisa melihat sedikit senyum manis ibuku. Tapi tidak untuk Ayah. Aku tak sempat menyaksikan seorang pekerja keras di dunia ini. Begitulah ibuku dulu bercerita tentangnya. Anam, itulah nama pemberian ibuku kepadaku.
“Hoy Anam... aku ikutttt....” teriak dari kejauhan. Oh, betapa sukacitanya aku.. Dia adalah Ray. Nafasnya nampak tak teratur setelah lari menghampiriku. “Wah, kau boleh ikut denganku” jawabku dengan gembira.
Udara malam semakin menusuk tulang. Perjalanan malam sungguh berat. Kaki ini mulai tak kuat melangkah. Namun belum ada jejak tentang Ibuku. Hanya Suara jangkrik yang terdengar ditelingaku. Ribuan bintang sudah tertutup oleh mendung. “Sepertinya hujan segera turun, sebaiknya kita buat tenda disini saja” saran Ray sambil mengumpulkan kayu bakar. “Iya Ray, ide bagus” jawabku sambil memasukan pena Faber Castell ke tas kecilku. Pena inilah yang selalu kugoreskan pada lembaran-lembaran kecil buku harianku.Sebenarnya aku tak tega melihat Ray harus ikut bersamaku. Tak kudengar candanya lagi sampai detik ini karena ia telah tertidur pulas dalam tenda daun pisang.
Tengah malam Ray terbangun. Dia seperti mendengar suara gemertak kayu terinjak. dia juga merasa kedinginan. Dia berniat untuk keluar dari tumpukan daun pisang ini. Tapi ia masih takut karena Anam nampak tertidur pulas. Api unggun sudah mati, tapi bara api masih banyak yang menyala. “Suara apa itu ? pikir Ray. “Suara binatang kah?”
KRAK ... !!!!
Tiba-tiba terdengar suara dahan patah lagi. “SIAPA ITU ?!” Ray berteriak dan seketika Anam terbangun dari mimpinya.
“Ray...?” terdengar suara pelan seorang laki-laki dewasa dari kegelapan.
“Pak  Jaka !” seru Ray. Ray mengenali suara itu. Pak  Jaka adalah juragan anjing. Ia juga gemar berburu dengan anjing terlatihnya. “Sedang apa Bapak di situ ? ASTAGA ! Kemarilah!.”. “Oh, ternyata suara yang aku dengar tadi adalah Pak  Jaka” kata Anam lega.
“Maafkan Bapak, jika kedatangan Bapak mengagetkan kalian” permintaan maaf Pak  Jaka sambil menarik dua anjing kesayangannya.
“Suara Pak Jaka tadi seperti suara nenek sihir lho...” Ray kembali melucu. Semua nampak tertawa dengan lelucon aneh milik Ray itu. “Kalau suaramu seperti kijang dimakan anjing” balas Pak Jaka yang hobi berburu kijang.
Aku merasa senang juragan anjing itu mau menemaniku dan Ray mencari Ibuku. Sebenarnya aku juga takut dengan dua anjing besar milik PakJoko.

***
            “Pagi semua.” Sapa pria bertubuh jangkung bersuara serak. Pagi ini Pak Jaka  nampak sibuk mempersiapkan dua anjingnya itu, untuk melacak keberadaan Ibunya Anam. Tak lama setelah Anam dan Ray makan pisang, anjing Pak Jaka menggongong ke sebelah utara. Ray menggunakan teropong infra merah untuk melihat orang-orang yang ada di sana.
            Dengan hati berdebar-debar Anam, Ray, dan PakJoko berjalan menuju orang itu. Mereka mengambil jarak sekitar empat ratus meter agar tidak diketahui sedang membuntuti. Pak Jaka bersama anjingnya berjalan di depan Ray dan Anam. Ray sekali-kali menggunakan teropongnya dan  berbisik melapor kepada lainnya. Semua berjalan tanpa suara, seperti pemburu yang mengintai mangsanya. Ternyata benar, orang itu berjalan menuju sebuah gubuk di tengah hutan.
            “Sepertinya orang itu yang menculik Ibuku ?” pikir Anam yang menduga-duga. “Lihat saja tangannya dipenuhi tato, sudah bisa dipastikan kalau mereka orang jahat.” Kembali Ray menggunakan teropongnya untuk melihat orang itu lebih jelas. “Itu hanya tato ‘Anggry Bird’, mungkin orang itu penggemar berat ‘Anggry Bird’. Hahaha” Kata Ray dengan pikiran lucunya, serentak Pak Jaka dan Anam menahan tawa.
            Setelah jauh berjalan, Dugaan Anam semakin kuat. “Wah, mungkin di dalam sana Ibuku dikurung” pikir Anam yang mulai cemas dengan keadaan ibunya. Seorang  orang itu masuk ke dalam gubuk, kemudian seorang lagi berjaga di depan gubuk. Pak Jaka segera membisikan perintah-perintah kepada kedua anjingnya. Lalu, Sonie dan Bety berlari cepat sekali tanpa suara menuju orang itu- seorang laki-laki yang tinggi sekali.
            Pria itu kaget sekali. dia tidak menyadari sama sekali ketika kedua anjing besar itu meloncat ke arahnya dan merobohkannya. Terdengar suara ‘gedebuk’ keras. Ray dan Anam hanya mengawasi dari kejauhan. Sedangkan Pak Jaka masih sibuk mengikat orang itu di pohon. Tak tanggung tanggung, dibungkam mulut penjahat itu dengan sebuah mangga hutan.
            Masih ada satu target incaran mereka. Namun orang itu berada dalam gubuk itu. Benar, Ibu Anam ada disana. Melalui celah dinding bambu, mereka bisa melihat ekspresi ketakutan. Tal-tali itu mengikat kuat tubuh besar Ibu Anam. Baju putihnya berubah menjadi coklat karena tali kotor itu.
            Anam masih sibuk menulis dengan Pena Faber Castell kesayangannya. “Anakmu telah datang , Ibu” tulis Anam yang terselip dibawah pintu gubuk neraka itu. Dibalik celah dinding bambu itu, Ray melihat Ibu Anam sudah bisa tersenyum membaca teks dari anaknya. Pak Jako berusaha menyusun strategi baru. Ia memberikan arahan kepada Sonie dan Bety untuk bisa memancing seorang penjahat untuk keluar. Pria bertato berusaha mengusir Sonie dan Bety yang sudah di depan pintu. Namun Sonie dan Bety  sudah kebal dengan lemparan batu kecil itu. “Serang !” seru Pak Joko memegang karung besar.
            Siapa yang kuat melawan dua anjing dan tiga laki-laki pemberani ? Sonie dan Bety menggigit kedua kaki laki-laki bertato. Pak Joko kembali berhasil membungkam mulut orang itu dengan karung yang tadi dibawa. “Kasihan sekali orang itu, dia kesakitan. Siapa suruh jadi orang jahat?” komentar Anam tak tega melihatnya meronta-ronta.
            Anam berlari menuju Ibunya yang masih tak bisa bergerak lepas. Anam nampak gembira masih bisa melihat pipi lesung Ibunya. Dilepasnya tali itu dengan bantuan Pak Joko. Ray hanya duduk terdiam menyaksikan peristiwa bersejarah itu.
            Matahari mulai tenggelam di barat- indah sekali. Anam tak mau melepas pelukan eratnya. Diusapnya tetesan air mata yang mengalir dari mata Ibunya. Hari ini jiwanya terisi dengan ribuan tetes kebahagiaan yang mengisi samudra kerinduan, dan miliaran burung berputar dengan eksentrik yang bersilangan. Tuhan bertahun-tahun telah menyimak harapan Anam. Pak Jako dan Ray telah berhasil menjalankan tugasnya.
            “Ya Tuhan, kekalkan lah aku bersama Ibuku. Aku ingin mendampinginya hingga nafas telah tiada. Ayah pasti menunggu kami di Surga. Dan terima kasih Tuhan, Engkau telah kirim dua orang yang baik hati.”

            Runtuhan daun menyambutnya. Jutaan tetes air di langit  menjadi saksi keabadian mereka. Tertulis dalam sebuah lembar kecil dengan goresan halusnya “Aku berharap hanya ajal yang memisahkanku.”

Tags : cerpen pertemanan, cerpen sahabat, cerpen disekolah, cerpen tugas sekolah, cerpen kelas, cerpen tentang teman.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.