KISAH MENGHARUKAN DELISA

KISAH INSPIRATIF DELISA

Air mataku menetes. Aku tak kuasa mendengar kisah demi kisah dalam hidupnya. Beberapa jam yang lalu, ia nampak lemah dan rentan untuk berjalan menuju ke sebuah kursi panjang ini. Aku memang melihatnya tersenyum lebar di pipi mungilnya, namun sayang orang disana menganggapnya seperti orang gila, bahkan tanpa kata “seperti”.

Dia adalah sahabatku sejak kecilku, bernama Delisa. “Aku benci hidup ini. Aku benci dengan apa yang aku miliki. Aku benci semuanya.” itulah kata-kata yang aku ucapkan ketika gagal juara kelas.  Aku memang tidak bisa sehebat Delisa dalam menjalani hidupnya. Delisa adalah orang menginspirasiku untuk selalu semangat menjalani hidup ini.

Delisa masih seperti yang aku kenal dulu. Ia masih ceria dan sopan kepada siapapun. Seperti biasa, ia selalu membawa sebuah buku  harian dengan keempat jari-jari kurusnya. Buku itulah yang bercerita kepadaku tentangnya. Tak lupa dua tongkat yang setia menemani Delisa.

Hari ini kami bertemu, setelah 2 tahun berpisah. Ia harus pindah ke Singapore karena ia harus operasi kaki karena kecelakaanya yang menimpanya 2 tahun silam. Hari-harinya ia habiskan bersama obat-obat yang diminumnya setiap hari. Namun beruntunglah aku bisa melihatnya kembali, dokter mengizinkan Delisa untuk pulang ke Indonesia kemarin. Dengan cepat aku undang Delisa menuju sebuah tempat favorit kami sejak kecil,  Alun-Alun Tulungagung.

Senang sekali rasanya menikmati udara pagi yang masih sejuk seperti ini. Sudah lama  kami merindukannya. Mentari menyapa “hai” kepada kami. Burung-burung pun saling berlomba-lomba mendekati kami, mereka ingin berkenalan dengan Delisa yang selama ini hanya berada di rumah sakit dengan bermacam alat-alat dokter yang melekat ditubuh kurusnya itu.

“Bagaimana dengan sekolahmu, Zam ? Kudengar dari papamu, kamu sering juara kelas.” Delisa mengawali sebuah percakapan disebuah buku hariannya. Sejak terlahir didunia ini, Tuhan memberikan sebuah ujian besar kepadanya, ia adalah seorang tuna wicara. Buku ini yang menjadi perantara komunikasi kami.

“Hmm...Ya begitulah, Sa. Terkadang rangking 1 dan terkadang tidak rangking. Hidupkan berputar, kadang diatas kadang dibawah.” Jawabku dalam bukunya.

Aku menunggu lama jawaban darinya. Ia nampak masih menulis. Sepertinya ia menjawabnya dengan panjang lebar. Tulisannya memang kurang begitu bisa dibaca, maklum saja , ia sudah tidak bersekolah sejak 2 tahun yang lalu.

“Alhamdulillah, Zam. Orang tuamu pasti bangga denganmu. Sebagai sahabatmu, aku bangga denganmu. Owh, iya.. tadi kamu bilang hidup terkadang diatas terkadang dibawahkan ? Lantas mengapa hidupku tetap dibawah ? Aku tak bisa bermain seperti anak-anak seusiaku, aku tidak bisa makan bebas seperti anak pada umumnya. Puluhan butir obat aku minum setiap hari. Kapan aku bisa hidup bebas seperti kamu ? Apakah kamu tidak malu punya teman seperti aku ini ?.” balas Delisa dengan senyumnya.

Aku menghela nafas sejenak. Sebenarnya aku tahu bahwa didalam hati Delisa ia bersedih, ia tidak dapat menyembunyikan kesedihan dalam senyumnya. Aku sebenarnya ragu apakah aku masih bisa tegar sepertinya.

“Tuhan punya rencana indah untukmu. Bersabarlah ! Tuhan mencintaimu, Sa.” Jawabku sambil menetes air mata ini. Aku begitu cengeng untuk menjadi anak yang terlahir sempurna. Aku harus belajar banyak dari Delisa.

“Semoga itu benar, Zam.” Tulis delisa dengan terburu-buru. Delisa hanya tersenyum menatapku, memang tidak ada katapun yang dapat terucap dari mulutnya. Dari kejauhan nampak Ayahnya sudah menjemputnya untuk pulang. Sudah waktunya Delisa harus pulang untuk minum puluhan obat. Obat-obat itu dan Do’a-ku dalam setiap nafasku, semoga memberikan kesembuhan pada kakinya yang patah.

Kulambaikan tangan salam perpisahan. Aku berharap hari-hari kemudian kudapat berjumpa dengan seorang anak setegar dia. Berharap Tuhan masih memberiku nafas untuk bertemu dengannya. Aku belajar banyak darinya. Keceriaan yang membantunya bisa tersenyum dengan segala keterbatasnnya. Ketegaran yang membuatku untuk lebih bersyukur kepada-Nya.

Terkadang kita mengeluh ketika kita sedang diuji oleh Sang Maha Kuasa. Ketika mendapat nilai jelek, terkadang  kita mengeluh “Tuhan  jahat, Tuhan tidak sayang kepadaku”. Itulah tanda manusia yang  tidak bersyukur. Kita lupa bahwa disana masih banyak orang yang lebih berat ujiannya dari pada kita. Sebuah keterbatasan tidak membuat seseorang harus bunuh diri dan menyerah pada takdir. Kita tidak tau apa rencana Tuhan kepada kita. Cobaan dari Tuhan yang membuat kita dekat dengan Sang Maha Kuasa.  Kita harus semangat menjalani hidup ini, semua orang punya kekurangan.Tuhan punya rencana indah untuk kita semua.


·         Khoirun Nizam

Motto : “Hanya seorang yang hebat, yang mampu hidup tegar dalam menjalani hidup dengan segala keterbatasannya”

Tags : Kisah motivasi kehidupan, kisah teladan dalam hidup, kisah keterbatasan, kisah kekurangan menjadi kelebihan

Tidak ada komentar

Terima kasih sudah berkomentar. Salam sukses selalu untukmu! Jangan bosan mampir di blog ini.

Diberdayakan oleh Blogger.