DEFINISI, MACAM, KAIDAH QIRAAT AL-QUR’AN

STANDAR KOMPETENSI
Memahami qiroat al-Qur’an

KOMPETENSI DASAR
A.      Menjelaskan qiroat al-Qur’an
B.      Menjelaskan macam-macam qiro’at al-Qur’an
C.      Menjelaskan kaidah qiroat yang shohih
D.      Mengidentifikasi faedah beraneka ragamnya qiro’at al-Qur’an
               
MATERI PEMBELAJARAN

A.      Definisi Ilmu Qiroat
B.      Macam-macam qiro’at al-qur’an
C.      Kaidah- kaidah Qiroat
D.      Faedah beraneka ragamnya qiroat al-Qur’an
  
INDIKATOR
Setelah peserta didik mempelajari materi-materi pokok diharapkan dapat :
A.      Mendefinisikan Ilmu Qiroat
B.      Deskripsi Sejarah Ilmu Qiroat
C.      Menjelaskan Kaidah-kaidah qiroat
D.      Menjelaskan beraneka ragamnya qiroat al-Qur’an






BAB III
QIRAAT AL-QUR’AN


Sebagian ulama mempersamakan antara al-Qur’an dan Qiraat, karena qiraat yang telah diterima bacaannya adalah al-Qur’an juga. Namun, sebagian yang lain mengatakan bahwa a-Qur’an dan qiraat ada perbedaan. Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk dan menjadi mukjizat. Sementara al-Qiraat adalah perbedaan redaksi dan cara membacanya dari wahyu tersebut.

A.      Definisi Ilmu Qiroat
Menurut Imam Ibnu al-Jazari Ilmu Qiroat adalah Ilmu yang mempelajari tata cara pengucapan redaksi al-Qur’an dan perbedaannya dengan menyandarkan bacaan tersebut kepada perowi-perowinya.
Sedangkan pengertian Ilmu Qiroat adalah Ilmu riwayah atau ilmu yang berdasarkan penukilan dari para ahli qiroat secara bersambung sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Tidak ada unsur ijtihad dalam ilmu ini, karena semua bacaan berdasarkan pengucapan dari mulut orang-orang yang ahli qiroat secara berkesinambungan.
Fokus dan objek ilmu qiroat adalah redaksi al-Qur’an bukan maknanya yaitu bagaimana cara membaca redaksi tersebut. Berbeda dengan ilmu tafsir yang menitik beratkan kepada cara memahami redaksi al-Qur’an.

B.      Macam-macam Qiraat al-Qur’an
      Adapun macam-macam qiraat al-Qur’an sebagai berikut :
1.    Qiraat Tujuh (al-Qira’at as-Sab’)
Ibnu alJazari dalam kitab an-Nasyr menggambarkan situasi pada abad-abad kedua dan ketiga hijriyah dalam hal qiraat yang beredar di masyarakat, bahwa keadaannya sudah mulai tidak kondusif, hampir saja kebenaran bercampur dengan kebatilan. Pada sisi lain, adanya mushaf usmani yang ditulis pada masa Usmani tidak mengandung tanda baca, dalam hal ini, bisa menjadi pintu gerbang yang mulus bagi ahli bid’ah untuk membaca apa saja yang mereka kehendaki, tanda harus mengaitkan hal tersebut dengan sohihnya sanad dan
Imam Ibnu  al-Jazari  berpendapat bahwa Ilmu Qiroat adalah Ilmu yang mempelajari tata cara pengucapan redaksi al-Qur’an dan perbedaannya dengan menyandarkan bacaan tersebut kepada perowi-perowinya. Kemasyhuran bacaan tersebut Muhammad al-Jawwad al-“aili menambahkan bahwa minat masyarakat untuk mempelajari qiraat dengan banyak riwayat telah menurun. Melihat situasi ini para ulama qira’at mulai tanggap lalu memilah dan memilih bacaan yang bisa dianggap betul-betul bacaan yang sah.
Pada permulaan abad keempat hijriyah, ulama qiraat memilih orang-orang yang dipandang mumpuni dalam hal qiraat, terpercaya, masyhur, mempunyai pengalaman yang cukup lama dalam pengajaran ilmu qiraat. Mereka memilih ahli qiraat dari setiap negeri di mana mushaf “Usmani” dikirim kepada mereka sebagai orang yang bisa mewakili bacaan penduduk negeri tersebut. Dipilihnya tujuh iman yang mewakili setiap negeri diantaranya :
1.       Imam Nafi’ Ibn Abi Nu’aim al-Asfahani (w. 169 H)
2.       Imam Abdullah Ibn Kasir (w. 120 H)
3.       Imam Abu Amr al-Basri (w.154 H)
4.       Imam Abdullah Ibn Amir (w.118H)
5.       Imam Asim Ibn Abi an-Najud (w.129 H)
6.       Hamzah bin Habib az- Zayyat ( w. 156 H )
7.       Al-Kisa’I Ali Bin Hamzah (w. 189 H )

Patut dicatat bahwa orang pertama yang memprakarsai untuk memilih tujuh imam qira’at atau penggagas pertama munculnya al-qira’at as-sab (qiraat as sab’ah) adalah Imam Abu Bakar bin Mujahid al-Bagdadi (w. 324 H). kitab as-Sab’ah yang ditulisnya berisi bacaan imam-imam tujuh akhirnya menjadi rujukan banyak kalangan. Ibnu Mujahid pada saat menentukan tujuh imam qiraat berpijak pada ketokohan seseorang dalam bidang Ilmu qiraat dan keseuaian bacaan mereka dengan mushaf Usmani yang ada pada negeri mereka dan bacaan mereka betul-betul masyhur di kalangan ulama di negerinya masing-masing.
Penyebab kemunculannya al-Qira’at as-Sab’ah diantaranya :
a.       banyaknya riwayat tentang qiraat yang beredar di masyarakat, sehingga menjadi rancu bagi kalangan awan
b.      adanya mushaf Usmani  yang tidak berbaris menjadi pintuk masuk bagi kalangan ahli bid’ah untuk membaca sesuai dengan apa yang mereka kehendaki tanpa harus melihat sahihnya sanad
c.       Menurunnya semangat untuk mempelajari qiraat dengan banyaknya qiraat, sehingga diperlukan penyederhanaan dalamperiwayatan.
Setelah kemunculankitab as-Sab’ah, terjadi perubahan positif yang mengarah pada penyusunan kitab qiraat. Para ulama qiraat mulai meneliti riwayat yang akhirnya bermuara kepada imam tujuh. Ternyata para perawi dari imam tujuh cukup banyak. Dengan adanya banyak rawi dari imam tujuh yang mengakibatkan banyaknya variasi bacaan,  hal ini bisa menyusahkan bagi para peminat ilmu qiraat sehingga Imam Abu ‘Amr ad-Dani (w. 444H) menyederhanakan jumlah perawi dari setiap imam menjadi dua rawi saja. Dalam kitab at-Taysir fil Qira’at as-Sab’ ad-Dani hanya mencantumkan dua perawi dari setiap imam diantaranya ;
1.       Nafi : rawinya qalun dan Warsy
2.       Ibnu Kasir : Rawinya al-Bazzi dan Qunbul
3.       Abu ‘Amr : rawinya ad-Duri dan as-Susi
4.       Ibnu ‘Amir : rawinya : Hisyam dan Ibnu  Zakwan
5.       ‘Asim: rawinya : Su’bah  dan Hafs
6.       Hamzah : rawinya : Khalaf dan Khallad
7.       Al-Kisa’i: rawinya : abul Haris dan ad-Duri al Kisa’i
Dengan penyederhanaan ini, lebih mudah mengenal qiraatnya imam tujuh tersebut, untuk lebih memudahkan menghafalmateri qiraat tujuh menurut Imam asy-Syatibi (w.591 H) dalam kitab Hirzul amani wa Wajhut-Tahani yang isinya nazm (syair) yang memuat 1071 bait syair yang berisi materi qiraatnya imam tujuh. Kitab ini sangat terkenal dan bahan rujukan untuk kalangan masyarakat.

2.    Qira’at Sepuluh (al-Qira’at al-‘Asyr)
Disamping qiraat tujuh, masih ada lagi qiraat yang juga masyhur di kalangan para ulama adalah Qira’at Sepuluh (al-Qira’at al-‘Asyr). Mereka adalah imam tujuh ditambah tiga imam yaitu ;’
1.    Nafi : rawinya qalun dan Warsy
2.    Ibnu Kasir : Rawinya al-Bazzi dan Qunbul
3.    Abu ‘Amr : rawinya ad-Duri dan as-Susi
4.    Ibnu ‘Amir : rawinya : Hisyam dan Ibnu  Zakwan
5.    ‘Asim: rawinya : Su’bah  dan Hafs
6.    Hamzah : rawinya : Khalaf dan Khallad
7.    Al-Kisa’i: rawinya : abul Haris dan ad-Duri al Kisa’i
      Penyebab kemunculannya al-Qira’at as-Sab’ah :
a.    banyaknya riwayat tentang qiraat yang beredar di masyarakat
b.    adanya mushaf Usmani  yang tidak berbaris menjadi pintuk masuk bagi kalangan ahli bid’ah untuk membaca.
8.    Imam Abu Ja’far Yazid bin al-Qa’qa’ (w. 130 H) guru Imam Nafi’, dengan kedua rawinya yang masyhur : Ibnu Wardan (w.sekitar 160 H) dan Ibnu Jammaz (w.setelah 170 H)
9.    Imam Ya’kub al-Hadrami (w.205 H) dengan kedua rawinya : Ruwais (w.238 H) dan Rauh.
10.       Imam Khalaf bin Hisyam al-Bazzar (w.229 H) dengan dua perawinya : Ishaq (w.286 H) dan Idris (w.292 H)

Bacaan mereka dari segi kualitas bisa disamakan dengan qira’at tujuh. Bacaan mereka memenuhi tiga persyaratan diterimanya dan sahihnya sebuah qira’at sebagaimana dijelaskan sebelumnya.
Bacaan imam sepuluh dihimpun dengan sangat baik dan sangat teliti oleh Imam Ibnu al-Jazari (w. 833 H), seorang yang dijuluki pamungkas dan penuntas masalah qira’at pada abad ke 9 H. Beliau mengarang kitab an-Nasyr fil Qira’at al-‘Asyr. Karya puncak dari Ilmu Qira’at yang ada saat ini. Kitab ini hasil telaah mendalam dari sekitar 64 kitab qira’at sebelumnya yang menjadi rujukannya. Ibnu al-Jazari mengaku bahwa jumlah riwayat imam sepuluh yang dilibatkan dalam kitab ini 980 riwayat. Banyaknya riwayat yang menopang qira’at sepuluh ini menjadikan qira’at sepuluh ini kokoh dan tidak terbantahkan.

3.    Qira’at Empat Belas (al-Qira’at al-Arba’ah ‘Asyr)
Para ulama qira’at masih terus berupaya menghimpun qira’at imam lainnya. Lalu muncul empat iman lain. Hanya saja, bacaan mereka di bawah kualitas bacaan imam sepuluh oleh karena itu ulama qira’at sepakat bahwa qira’atnya imam empat terakhir ini syaz. Artinya, tidak boleh dibaca sebagai al-Qur’an karena tidak memenuhi tiga kriteria yang disebut dimuka. Mereka adalah ;
1.    Nafi : rawinya qalun dan Warsy
2.    Ibnu Kasir : Rawinya al-Bazzi dan Qunbul
3.    Abu ‘Amr : rawinya ad-Duri dan as-Susi
4.    Ibnu ‘Amir : rawinya : Hisyam dan Ibnu  Zakwan
5.    ‘Asim: rawinya : Su’bah  dan Hafs
6.    Hamzah : rawinya : Khalaf dan Khallad
7.    Al-Kisa’i: rawinya : abul Haris dan ad-Duri al Kisa’i
8.    Imam Abu Ja’far Yazid bin al-Qa’qa’ (w. 130 H) guru Imam Nafi’, dengan kedua rawinya yang masyhur : Ibnu Wardan (w.sekitar 160 H) dan Ibnu Jammaz (w.setelah 170 H)
9.         Imam Ya’kub al-Hadrami (w.205 H) dengan kedua rawinya : Ruwais (w.238 H) dan Rauh.
10.      Imam Khalaf bin Hisyam al-Bazzar (w.229 H) dengan dua perawinya : Ishaq (w.286 H) dan Idris (w.292 H)
11.      Ibn Muhaisin (w.122 H) dengan dua rawinya yang masyhur yaitu ; al-Bazzi dan Ibnu Syannabuz
12.      Al-Yazidi (dengan dua rawinya: Sulaiman bin al-Hakam dan Ahmad bin Farah)
13.      Al-A’masy (w.147 H) dengan rawinya : al-Muttawwi’i dan asy-Syanabuzi.
14.      Al-Hasan al-Basri (w.110 H) dengan rawinya : Syuja’ al-Balkhi dan ad-Duri.

C.      Kaidah Qira’at yang Shahih
Muhammad al-Jawwad al- Amili berpendapat tentang minat masyarakat untuk mempelajari qiraat dengan banyaknya riwayat telah menurun sebabkan banyak qiraat yang berkembangan, dalam situasi seperti ini para ulama qira’at mulai tanggap kemudian memilah dan memilih bacaan yang teruji validitasnya/ yang betul-betulbacaan shohih.
Adapun kaidah qiraat yang bisa diterima diantaranya ;
1.       Bacaan betul-betul mutawatir dan masyhur dikalangan ulama qiraat. Bacaan tersebut diriwayatkan oleh banyak orang dari  banyak orang dan seterusnya samapai kepada Nabi Muhammad SAW. Sebab al-Qur’an adalah kalamullah yang menjadi sumber utama dalam agama Islam. Sebagai sumber utama satu bacaan harus betul-betul meyakinkan. Jika ada satu bacaan yang tidak masyhur seperti bacaan ahad, maka bacaan tersebut tidak dapat diterima.
2.       Harus sesuai dengan Rasm Usmani. Sebab para sahabat telah sepakat dengan mushaf Usmani. Apa yang tidak tertera dalam mushaf Usmani dianggap bacaan yang tidak masyhur. Jika ada satu bacaan tidak sesuai dengan Rasm Usmani dianggap bacaan yang tidak masyhur. Jika ada satu bacaan tidak sesuai dengan Rasm Usmani, maka bacaan tersebut ditolak walaupun ada dalam kitab-kitab hadits yang sohih, karena para sahabat sudah sepakat dengan Rasm Usmani.
3.       Harus sesuai dengan kaedah-kaedah bahasa Arab, karena al-Qur’an adalah berbahasa Arab. Jika hal tersebut terpenuhi maka bacaan tersebut wajib diterima sebagai bacaan sahih, apakah berasal dari Imam tujuh, sepuluh atau lainnya. Sebaliknya jika salah satunya tidak terpenuhi, seperti tidak sesuai dengan Rasm Usmani atau tidak masyhur atau tidak sesuai dengan kaedah Bahasa Arab, maka bacaan itu tidak bisa diterima dan anggap syaz.

D.      Identifikasi Faedah Beraneka Ragamnya qira’at al-Qur’an
Dengan perkembangan ilmu-ilmu keislaman terutama Qiroat yang bermacam-macam diantaranya al-qiroat as-sab, al-qira’at al-‘Asyr, al-Qira’at al-Arba’ah ‘Asyr.
Adapun faedah beraneka ragam qiroat al-qur’an sebagai berikut :
1.       menambah hasanah pengetahuan tentang qiro’at al-qur’an
2.       meningkatkan pemahaman pengetahuan qiro’at al-qur’an
3.       menghindari pengetahuan-pengetahuan qiro’at yang tidak soheh
4.       menghindari perbedaan-perbedaan pendapat tentang qiro’ah al-qur’an

Dengan demikian walaupun beragam qiro’at akan selalu dipedomani sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan.
Faedah beraneka ragam qiroat al-qur’an:
a.    menambah hasanah pengetahuan
b.    meningkatkan pemahaman pengetahuan qiro’at
c.     menghindari perbedaan-perbedaan pendapat tentang qiro’ah al-qur’an


KESIMPULAN
1.    Menurut Imam Ibnu al-Jazari Ilmu Qiroat adalah Ilmu yang mempelajari tata cara pengucapan redaksi al-Qur’an dan perbedaannya dengan menyandarkan bacaan tersebut kepada perowi-perowinya
2. Macam-macam Qiraat al-Qur’an
    a.Qiraat Tujuh (al-Qira’at as-Sab’)
Dipilihnya tujuh iman yang mewakili setiap negeri diantaranya :
1.       Imam Nafi’ Ibn Abi Nu’aim al-Asfahani (w. 169 H)
2.       Imam Abdullah Ibn Kasir (w. 120 H)
3.       Imam Abu Amr al-Basri (w.154 H)
4.       Imam Abdullah Ibn Amir (w.118H)
5.       Imam Asim Ibn Abi an-Najud (w.129 H)
6.       Hamzah bin Habib az- Zayyat ( w. 156 H )
7.       Al-Kisa’I Ali Bin Hamzah (w. 189 H )
3. Kaidah qiraat yang bisa diterima diantaranya ;
a. Bacaan betul-betul mutawatir dan masyhur dikalangan ulama qiraat 
b. Harus sesuai dengan Rasm Usani.
c. Harus sesuai dengan kaedah-kaedah bahasa Arab





UJI KOMPETENSI

I. Aspek Afektif
Tugas kelompok buatlah laporan tentang Penyebab kemunculannya al-Qira’at as-Sab’ah

II. Aspek Psikomotorik
Coba menganalisis Penyebab kemunculannya al-Qira’at as-Sab’ah, kemudian diskusikan dengan teman kelompok belajar saudara.

III. Aspek Kognitif

I.        Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat dengan memberi tanda silang (X) pada huruf a,b,c,d atau e !
  1. Menurut Imam Ibnu al-Jazari Ilmu Qiroat adalah...
a.        Ilmu yang mempelajari tata cara pengucapan redaksi al-Qur’an
b.      Ilmu yang mempelajari tata cara pengucapan matan al-Qur’an
c.       Ilmu yang mempelajari tata cara pengucapan uslub al-Qur’an
d.      Ilmu yang mempelajari tata cara asbabul nuzul al-Qur’an
e.      Ilmu yang mempelajari tata cara wurudul hadits al-Qur’an
  1. Fokus dan objek ilmu qiroat adalah...
a.        Redaksi al-Qur’an bukan maknanya
b.      Makna bukan redaksi al-Qur’an
c.       Maknanya saja
d.      Isi al-qur’an
e.      Susunan kalimat dan isi al-qur’an
  1. Macam-macam qiraat al-Qur’an adalah
a.       al-Qira’at as-Sab’
b.      Qiroatul Hamsah
c.       Qiroatul tsaniyah
d.      Qiroatul Tsalisah
e.      Qira’atul tis’ah

  1. Orang pertama yang memprakarsai untuk memilih tujuh imam qira’at atau penggagas pertama munculnya al-qira’at as-sab (qiraat as sab’ah) adalah...
a.        Imam Abu Bakar bin Mujahid al-Bagdadi
b.      Imam Abu Hanifah
c.       Imam Syafi’i
d.      Imam Abu Bakar bin madani
e.      Imam Abu Bakar Assidiq
  1. Penyebab kemunculannya al-Qira’at as-Sab’ah diantaranya adalah …
a.    Banyaknya riwayat tentang qiraat yang beredar di masyarakat, sehingga menjadi rancu bagi kalangan awan
b.    Teruji validitas dan realibilitas
c.     Banyaknya riwayat tentang munculnya ide-ide yang bagus dikalangan awan
d.    Banyaknya riwayat tentang banyaknya pendapat dikalangan orang ‘alim
e.    Banyaknya riwayat tentang banyaknya gagasan dikalangan ahli qira’at
  1. Para ulama qiraat mulai meneliti riwayat yang akhirnya bermuara kepada imam....
a.    Imam Tujuh
b.    Imam Enam
c.     Imam Sepuluh
d.    Imam Dua
e.    Imam Empat
  1. Kaidah-kaidah qiraat yang bisa diterima adalah …
a.    Harus sesuai dengan Rasm Usani. Sebab para sahabat telah sepakat dengan mushaf Usmani
b.    Harus sesuai dengan kaedah-kaedah al-qur’an
c.     Harus sesuai dengan kaedah-kaedah fiqih ushul fiqih
d.    Harus sesuai dengan kaedah-kaedah tafsir
e.    Harus sesuai dengan kaedah-kaedah manteq
  1. Dalam kitab at-Taysir fil Qira’at as-Sab’ ad-Dani hanya mencantumkan dua perawi dari setiap imam …
a.    Nafi : rawinya qalun dan Warsy
b.    Nafi : rawinya amr dan an-najih
c.     Nafi : rawinya ahmad
d.    Nafi : rawinya warsy
e.    Nafi : rawinya abu bakar
  1. Kitab Hirzul amani wa Wajhut-Tahani yang isinya nazm (syair) yang memuat 1071 bait syair yang berisi materi qiraatnya...
a.    Imam tujuh
b.    Imam empat belas
c.     Imam delapan
d.    Imam sebelas
e.    Imam tujuh belas
  1. Pendapat tentang minat masyarakat untuk mempelajari qiraat dengan banyaknya riwayat telah menurun sebabkan banyak qiraat yang berkembanga oleh …
a.    Muhammad al-Jawwad al- Amili
b.    Muhammad Abduh
c.     Imam Ghozali
d.    Imam Abu Hanifah
e.    Muhammad al-Jawwad al- Amr

II.      Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan jelas dan tepat !
1.    Jelaskan Definisi Ilmu Qiroat!
2.    Sebutkan dan uraikan Macam-macam qiro’at al-qur’an!
3.    Uraikan dengan jelas dan tepat Kaidah- kaidah Qiroat!

4.    Jelaskan Faedah beraneka ragamnya qiroat al-Qur’an!

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.