Wajah Baru Gang Dolly


Pagi yang cerah di Jalan Kupang Gunung Timur I, kawasan bekas lokalisasi Dolly di Surabaya, pada Minggu (09/07/2016). Beberapa anak kecil berlarian menuju tempat futsal karena akan digelar kompetisi futsal. Deretan warung kopi masih tampak sepi pengunjung pagi itu. “Sampean mau nyari Cewek ya, Mas?” sapa Sulastri (53), pemilik warung kopi itu membuka obrolan ditemani secangkir kopi.

Ketika ditanya tentang kondisi sebelum dan sesudah penutupan lokalisasi, Ibu dari tiga anak tersebut mengaku lebih suka dengan suasana sekarang karena sering ada kegiatan kunjungan yang digelar oleh Pemerintah Kota Surabaya. “Kalau ada kunjungan-kunjungan pasti ramai Mas, paling banyak mahasiswa ITS dan ini nanti mau ada lomba futsal babak final,” ungkapnya sembari menyeduhkan kopi.



Sejak Tri Rismaharini menutup lokalisasi Dolly pada 18 April 2014, beberapa wisma memang sudah tidak berpenghuni dan sebagian wisma lainnya dialihfungsikan. Jika dulu berbagai wisma, karaoke, atau salon berderet di Jalan Kupang Gunung Timur, kini hanya tersisa bekas-bekasnya. Wisma atau salon berubah menjadi toko komersial seperti mini market, counter handphone dan pulsa, pangkas rambut, air isi ulang, bengkel motor dan warung kopi. 

“Iya Mas, beberapa ada yang disewakan jadi tempat kos kalau dulu tidak ada karena orang takut, ada juga yang dibeli oleh Pemkot,” jawabannya sambil menunjuk wisma diseberang warungnya.

Salah satu wisma terbesar, Wisma New Barbara, sekarang berubah menjadi sentra produksi sepatu dan sandal. Ketika mendapat kesempatan untuk masuk, dibagian depan disambut dengan beberapa produk sepatu dan sandal dalam etalase. “Sebenarnya kalau hari Minggu libur, tapi kebetulan ada banyak pesanan jadi lembur,” ucap Winarni (39), salah satu karyawan di Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mampu Jaya.



PJ (Putat Jaya) Collection, begitulah merk yang disematkan untuk sepatu dan sandal yang diproduksi di eks lokalisasi Dolly ini. Produknya telah mendapat ribuan pesanan dari berbagai instansi. Mulai dari Pemerintah Kota Surabaya, beberapa hotel yang ada di Surabaya hingga Yogyakarta. 


“Disini produksi sepatu dan sandal supplier di enam hotel Surabaya, kalau sandal hotel itu meskipun sedikit tapi secara kontinu. Kita setiap dua minggu harus setor sekitar lima ribu pasang, tapi belum sampai dua minggu udah pesan lagi,” jelas salah satu karyawan yang sedang lembur tersebut. Hasil sepatu eks lokalisasi Gang Dolly juga sering ditunjukkan ke Tri Rismaharini untuk dimintai pendapat dan jika disetujui akan dipakai oleh para jajaran pejabat Wali Kota Surabaya. 



Keahlian masyarakat dalam membuat sepatu diawali dengan mengikuti pelatihan (training) yang digelar oleh Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI). “Dulu pernah ikut pelatihan di BPPI langsung dari kementerian pusat, di-training bikin sepatu dan tidak boleh pulang selama satu bulan,” ucap Winarni sambil menunjukkan sandal hotel yang siap dikirim. Masyarakat sekitar yang baru bergabung dapat langsung diberikan arahan oleh mereka yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya. Tidak hanya itu, diberikan juga uang bagi masyarakat yang ingin baru mencoba untuk menarik minat bergabung di sentra produksi sepatu KUB Mampu Jaya ini.

Selain sentra produksi sepatu, bekas lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara juga memiliki sekitar 12 Usaha Kecil Menengah (UKM) yang mampu menjadi lapangan pekerjaan, yakni tempe “Bang Jarwo”, batik “Putat Jaya”, konveksi, sablon, bandeng, manik-manik, samiler Samijaya (kerupuk singkong), minyak rambut, atau minuman. Batik Putat Jaya sendiri terdiri dari tiga kelompok, yakni Canting Surya, Albujabar dan Jarak Arum.



Dari segi pendapatan masyarakat tentu diakui mengalami penurunan, namun ada ketenangan jiwa yang dirasakan masyarakat saat ini. “Ya memang penghasilan dulu lebih banyak. Tapi Alhamdulillah sekarang lebih tenang. Dulu mungkin lebih banyak jumlah uangnya. Tapi kan lebih barokah sekarang,” ungkap Sunarti (55) yang dulu membuka “Karaoke 34” dikutip dari Tirto.id.

Pemerintah masih akan terus berupaya memberdayakan ekonomi di kawasan bekas lokalisasi Dolly dengan berbagai macam pelatihan ketrampilan. Bekas lokalisasi Dolly diharapkan mandiri secara ekonomi tanpa perlu lagi menjadi pusat gemerlap dunia malam. Menjadi Dolly sebagai kampung wisata penuh cerita, yang mampu menginspirasi daerah lain untuk semakin memberdayakan masyarakat secara produktif.


*Tulisan diatas adalah Tugas Jurnalisme Damai untuk Mata Kuliah Dasar Jurnalistik
Ilmu Komunikasi, Unair 2017

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.