Dari Tulungagung Sampai ke Lampung

"Setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan. 
Namun, perpisahan menjadi candu untuk menjalin pertemuan"

Cerita ini bermula dari keluargaku yang dulu ikut transmigrasi. Tahun berapa-nya saya nggak inget karena saat itu mungkin saya belum lahir. Awalnya dari Tulungagung, sekarang kakek nenek dari jalur ayah bersama tujuh saudara ayah sudah menetap ke Lampung. Sedangkan saya bersama Ibu dan Ayah masih menetap di Tulungagung.

Kenapa ayah saya nggak ikut transmigrasi ke Lampung? Kata nenek agar ada wakil di Tulungagung sehingga bisa tetap menjaga ikatan saudara. Dan saya setuju dengan keputusan itu.

Budaya mudik pun jadi ritual sakral di keluarga kami. Menjadi sedih karena nggak tiap tahun bisa mudik ke Lampung atau yang dari Lampung mudik ke Tulungagung. Biasanya sih cuma pas ada acara besar aja mudiknya seperti kemarin saat saya sunatan. Selebihnya, saya dan orang tuaku gantian berkunjung ke Lampung untuk menjenguk kakek dan nenek yang semakin senja.


Terakhir kali ke Lampung itu tahun 2013. Iya sekitar 5 tahun yang lalu. Kangen? Sudah pasti. Kalau boleh flashback, saat itu orang tua gaya-gayaan memilih naik pesawat. Biar ada pengalaman, katanya. Ngomongin pesawat jadi ingat masa kecil dulu yang lari keluar rumah, mendongak ke langit dan teriak “pesawat...pesawat” ketika ada pesawat melintas di atas rumah. Nah, ketika saya bisa menyentuhnya secara langsung dan naik di dalamnya, saya jadi senyum-senyum sendiri. Ternyata saya pernah se-ndeso itu.

Sebelum naik pesawat, kami juga pernah mudik naik bus. Perjalanannya 4 hari 4 malam. Capek parah. Kemudian pernah kepikiran, “andai punya mobil sendiri pasti mudik bisa tiap tahun, lebih cepat dan lebih hemat biaya”. Duh, ngayal babu banget. Celengan bentuk ayam aja belum penuh. Akhir bulan masih ngandalin indomie. Well, sebagai hamba pada umumnya cuma bisa berdoa pada Gusti tiap lihat mobil parkir di depan kosan. Didoain sambil dilirik tipis-tipis.

Waktu berjalan demikian cepatnya. Per-bulan Maret 2018 (tanggal dirahasiakan) saya sudah genap berusia 20 tahun. Diumur yang udah kepala dua itu secara nggak nyangka dapat kado sebuah mobil hasil nge-blog. Iya, mobil. Sebuah kendaraan roda empat dengan setir bulat. Alhamdulillah, seneng luar biasa karena Gusti telah mengabulkan doa saya. 

Kalau boleh cerita lagi, sempat ada drama karena saya menolak undangan awarding di Jakarta. Alasan pertama, saya nggak yakin juara meski embel-embelnya "awarding". Alasan kedua, saya takut bolos kuliah karena kebetulan harinya senin ada mata kuliah wajib. Dan secara ajaibnya, dosen tiba-tiba mengabarkan jika kelas diliburkan. Saya merasa memainkan panitia karena keputusan yang plin-plan ini. Beruntung panitianya baik dan akhirnya saya dibelikan tiket ke Jakarta. Saat itu posisinya masih belum tahu kalau jadi pemenang. Juara nggak juara yang penting bisa naik pesawat gratis, pikirku.

Namun, bukan itu 2018 my best moment. 


My 2018 best moment adalah ketika kehadiran mobil itu akhirnya menimbulkan sebuah rencana perjalanan di sela-sela libur kuliah yaitu mudik ke Lampung. Tepatnya pada awal Juli 2018 lalu. Setelah sekian lebaran nggak mudik, akhirnya mudik bukan lagi sekedar wacana. Apalagi mudiknya dengan mobil sendiri. Dobel senengnya.

Saya akui mudik dengan mobil pribadi memang lebih nyaman dan cepat. Kami bisa berhenti dipinggir jalan sambil buka bekal atau tidur di rest area saat tengah malam. Seneng banget bisa banyak menghabiskan waktu bersama orang tua apalagi selama ini saya LDR dari orang tua karena kuliah.

Bagi saya, mobil bukan sebagai simbol yang dengannya kita seolah gagah atau prasyarat naik kelas sosial. Saya memandangnya dari sisi manfaatnya bukan media pamer belaka.

Setibanya di Lampung, banyak momen-momen sederhana yang kuabadikan. Ya meski hanya pakai kamera HP biasa karena belum punya kamera digital sekaliber DSLR atau mirrorless. Menjadi wajar jika hasil foto kurang sempurna. Ada yang blur, gelap, dan nggak fokus. Tak mengapa yang penting bisa menjadi pengingat kalau lagi kangen Lampung.



Andai saat itu saya punya hp dengan kualitas kamera mumpuni seperti Huawei Nova 3i pasti hasil jepretannya lebih kece. Kenapa bisa begitu? Mari kita gosipin Huawei Nova 3i secara berjamaah.

Jadi, Huawei Nova 3i ini baru resmi di Indonesia sekitar akhir Juli 2018 lalu. Sedikit agak telat karena saya mudiknya awal Juli 2018, hehehe. Smartphone ini punya beberapa point of selling yang membuatnya berbeda dari smartphone lainnya.

Pertama, desain yang keren. First impression melihat desain irish purple ini adalah mewah dan kekinian banget. Smartphone yang aku banget! Jujur saya suka dengan desain layar bezeless dengan poni di bagian atas layarnya. Layar 6,3 inch FHD+ (2340 x 1080) membuat pandangan lebih luas tapi tetap pas di saku dan nyaman digenggam. Selain irish purple, smartphone ini juga punya varian black.

Kedua, memiliki kamera yang diperkuat AI. Huawei Nova 3i ini punya empat kamera AI 24 MP + 2 MP di bagian depan dan 16 MP + 2 MP di belakang. Karena punya AI (artificial intelligence), maka smartphone ini mampu mengingat 22 kategori dari 500+ momen, dan menyediakan hasil potret yang dioptimalkan untuk kamera belakang. Sedangkan kamera depannya mampu mengenali lebih dari 200 skenario dari delapan kategori. Tidak heran jika hasil fotonya punya kejernihan tinggi dan tetap natural. Mau foto bokeh profesional ala-ala kamera digital pun juga bisa. Wah, jika tahun depan mudik ke Lampung bisa sekalian hunting foto-foto instagramable pakai Huawei Nova 3i ini.

Ketiga, storage 128 GB paling besar di kelas smartphone mid-end saat ini. Untuk yang doyan selfie rasanya tak perlu lagi menghapus puluhan foto yang gagal upload. Kapasitas 128 GB sudah lebih dari cukup untuk menyimpan segala kebutuhan mulai dari file dokumen, lagu, gambar, video dan lainnya. Longgar banget. Mungkin saya harus merekam perjalanan dari Tulungagung sampai ke Lampung agar memorinya nggak nganggur, hehehe.

Keempat, diperkuat dengan GPU Turbo untuk kemampuan gaming. Teknologi itu mempercepat pemrosesan grafis dari integrasi hardware-software sehingga grafisnya mulus dan tanpa nge-lag. Pecinta gaming tak perlu lagi khawatir lemot saat bermain game. Hadirnya GPU Turbo juga makin menghemat baterai karena ada efisien dalam konsumsi energi. Menariknya lagi, ada Mode uninterrupted gaming yang dapat menyembunyikan semua notifikasi. Main games pun jadi bebas tanpa diganggu notifikasi.

***

Lagi-lagi saya masih menyesal kenapa Huawei Nova 3i ini diluncurkan setelah saya mudik. Tapi tak mengapa karena masih ada kesempatan mudik tahun depan dengan membawa amunisi Huawei Nova 3i. Semoga. Aamiin. 

Dan cerita ini tentu bukan bermaksud apa-apa. Saya sendiri menyimpulkan: jangan takut bermimpi untuk sesuatu yang kadang mustahil. Imbangi dengan usaha dan doa agar Gusti merestui. Jika nanti mimpi belum terwujud, yakinlah bahwa Gusti punya skenario lebih indah dan unpredictable yang sudah dipersiapkan.

Pada akhirnya....
Kebahagiaan tidak diukur dari banyaknya harta. 
Tapi seberapa banyak momen kebersamaan yang dapat dihadirkan. 
Dan momen kebahagiaan akan semakin sempurna jika diabadikan dengan Huawei Nova 3i. 

15 komentar:

  1. Wahh kameranya boleh jg tuh. Lumayan buat post di instagram. Gk perlu repot bwa kamera lagi nih..cukup pke huawei ini aja hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. yoi, hasil kameranya cakep apalagi ditambah AI..

      Hapus
  2. Keren bangetπŸ‘ di usia muda sdh bisa membahagiakan orang tua😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih terus berusaha membahagiakan ortu, mbak hehe

      Hapus
  3. Masya Allah, saya kembali diingatkan bahwa rejeki bisa datang dari mana saja ya, Kak. Dan pasti datang di saat yang tepat. Pas butuh mobil, pas dapat mobil. Selamat ya kak. Semoga menjadi berkah buat keluarga πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡.

    Btw, hpnya boleh juga nih. Biar tambah semangat ngeblognya ya. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, Honor Nova 3i emang keren mbak...
      Biar hasil fotoku nggak blur-blur lagi meski nggak pake DSLR atau mirrorless

      Hapus
  4. Dulu saya juga transmigrasi Zam, ke Kalimantan Selatan, tapi karena gak betah, kami pulang ke Jawa lagi. Disana ada saudara saya yang sampai sekarang sudah 20 tahun lebih belum pernah berkunjung lagi kesana. Dulu kalo orang tua saya betah disana, mungkin saya jadi orang Kalimantan dan menetap disana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, dulu memang banyak yg ikut transmigrasi.

      Hapus
  5. Mobil buat kami pun sebagai alat untuk mobilisasi, maklum Bali ga ada transportasi umum layaknya Malang, Surabaya, Jakarta dan Bandung.

    Btw, searching Huawei Nova i3 ternyata harganya lumayan banget ya dengan spec WOW-nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengan spec yang ada, harga segitu emang worth it sih, mbak.

      Hapus
  6. setuju. punya mobil memang dalam rangka kebutuhan ya. begitu juga punya ponsel keren kayak gini. semoga menjadi rezekimu yang berikutnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mbak..
      Udh usaha, sekarang saatnya doa.. Hehe

      Hapus
  7. Ikutan senang dek yah, hheee *umur lebih dulu sedikit*
    Mobil pun akhirnya memberikan kenangan yang indah di tahun 2018 dan bisa bersua dengan keluarga di Lampung yah dek
    Sukses selalu, smartphone Huawei Nova 3i emang sesuatu banget utk diidam-idamkan
    Good Luck dek ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak bener, awalnya memang enggak kepikiran mudik karena butuh biaya banyak. Alhamdulillah Tuhan nitip in mobil, yaudah dipake sampe ke Lampung

      Hapus
  8. Nizam KEREEEEN
    Always inspiring
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkomentar. Salam sukses selalu untukmu! Jangan bosan mampir di blog ini.

Diberdayakan oleh Blogger.