Mempertanyakan Kenusantaraan Kuliner Pada Pasar Malam Tjap Toendjoengan

Saat menginjakkan kaki di Surabaya untuk mengenyam bangku perkuliahan,
 ada banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan
 "Surabaya punya kuliner apa aja sih?"
 Dan pertanyaan itu terjawab ketika ada sebuah festival kuliner di Surabaya.


Pasar Malam Tjap Toendjoengan. Begitulah nama pasar malam yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-724. Acara ini sudah memasuki tahun ke-9. Saya pun berkempatan untuk mampir ke Pasar Malam Tjap Toendjoengan tahun lalu (25 Mei 2017) di  East Cost Pakuwon City Surabaya.

Dokumen pribadi

Seperti namanya "Pasar Malam Tjap Toendjoengan" maka pasar malam ini digelar untuk mengenang kembali kawasan Tunjungan yang dulunya menjadi pusat perbelanjaan yang kini sudah digusur. Dengan adanya pagelaran ini, maka harapannya pasar tradisional tetap lestari di Kota Pahlawan.

Tema yang coba diangkat adalah Kampoeng Melayoe. Hal ini begitu kental nuansa Melayu mulai dari backdrop sampai set panggung dengan dipadukan dekorasi khas tradisional jawa tempoe doloe tidak pernah hilang. Hal ini semakin menambah kesakralan pasar malam ini yang memang begitu legendaris. 

Lebih Higienis Dengan Transaksi Non Tunai

Pasar Malam Tjap Toendjoengan mencoba membuat sebuah terobosan baru. Biasanya ketika hendak membeli makanan selalu identik dengan uang kertas namun tidak untuk tahun ini. Seperti yang telah kita ketahui bahwa uang kertas (tunai) ternyata membawa banyak infeksi yang dapat menyebabkan berbagai penyakit. Bahkan, uang kertas dianggap lebih kotor dari pada toilet umum. Dalam sebuah penelitian menunjukkan bahwa satu lembar uang kertas bisa memiliki 135.000 bakteri. Bayangkan jika bakteri tersebut menempel ditangan dan masuk ke tubuh kita. Sungguh mengerikan.

Kartu Brizzi: Makan Nikmat Tanpa Takut Kuman (Foto pribadi)

Oleh karena itu, dalam pagelaran Pasar Malam Tjap Toendjoengan ini semua transaksi tidak lagi dilakukan secara tunai melainkan lewat pembayaran kartu Brizzi (Milik ATM BRI). Hal ini juga dilakukan sebagai upaya untuk terus mendongkrak transaksi non-tunai. Bagi yang tidak memiliki ATM BRI tidak perlu khawatir karena sudah tersedia banyak stand-stand BRI yang melayani pembelian kartu khusus tersebut.

Untuk harga kartu Brizzi sendiri dibanderol Rp 20.000 belum termasuk Top Up (saldo). Jadi semisal membayar Rp 100.000 maka akan mendapatkan Top Up sebesar Rp 80.000. Kalau saldo tidak habis, bagaimana? Tenang saja, ada fasilitas refund kok. Cukup kembalikan saja kartu Brizzi ke stand-stand BRI otomatis saldo yang tersisa dapat diuangkan kembali dan biaya kartu juga akan dikembalikan.

Dengan hadirnya sistem pembayaran non-tunai yang coba dihadirkan di Pasar Malam Tjap Toendjoengan, harapannya masyarakat semakin teredukasi dan semakin tinggi tingkat lliterasi keuangan. Saya pribadi sih masih tetap merasa jika sekalipun menggunakan Kartu Brizzi tetap saja terkena kuman.

Semua Kuliner Ada Disini?

Saat itu ada sekitar 500 hingga 600 menu baik makanan dan jajanan Nusantara. Mulai dari nasi liwet, lontong balap, bubur Madura, ronde, rujak cingur, nasi Bali, gudeg, aneka sate, semanggi, lontong kupang, pempek, tahu tek, rawon, dan masih banyak lagi. Jadi, makanan yang tersedia tidak hanya khas Surabaya. 

Namun, entah kenapa menurut saya masih ada yang kurang. Beberapa stand makanan tradisional lebih sepi dibandingkan stand makanan yang tidak jelas asal usulnya. Pun juga urusan ketersediaan tempat duduk yang terbatas sering kali membuat orang makan sambil berdiri. Terlepas dari itu semua, usaha untuk menghadirkan sebuah festival kuliner patut diapresiasi.


Pasar Malam Tjap Toendjoengan memang menjadi serbuan pecinta kuliner. Tidak heran jika begitu ramai. Dan Pasar Malam Tjap Toendjoengan tidak hanya tentang bagaimana mengisi perut. Lebih dari itu yakni sebagai upaya kembali menggairahkan kuliner lokal untuk di perkenalkan kepada global (dunia). Sudah seharusnya mencintai kuliner lokal karena itu merupakan identitas bangsa kita.

Tapi, saya merasa kok makanan tradisionalnya sepi ya? Masyarakatnya yang kurang suka atau memang stand kuliner tradisionalnya kurang menarik? Semoga tiap tahun semakin ada peningkatan. Biar tidak itu-itu saja yang ramai~

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.