Gelombang Ombak Semangat dari KBA Pulau Pramuka

Speed boat yang saya tumpangi tiba-tiba terombang-ambing ketika perjalanan sudah berlangsung 45 menit. Rasanya seperti terbang di udara dan mendarat di laut. Mirip naik roller coaster. Kepala terasa pusing dan perut bergejolak agak mual. Beberapa orang mulai mengenakan baju pelampung dan sebagian lagi berpindah tempat duduk mengisi bagian depan. Saya? mulai berdoa di kursi nomor 5 dari belakang dan mulai mencari sinyal barangkali bisa mengirimkan pesan terakhir.

"Saya perjalanan ke Pulau Pramuka, Bu. Kapalnya goyang-goyang," kirim pesan WhatsApp yang saya tutup dengan ekspresi senyum. 

"Iya musimnya emang sedang ombak," balasnya selisih satu menit dari pesan terkirim.

Bagi orang daratan seperti saya, yang paling menakutkan ketika berkunjung ke sebuah pulau adalah mati tenggalam atau terkena tsunami. Apalagi jika baru kemarin terjadi tsunami di sebuah daerah. Namun, beda cerita dengan seorang guru sekolah dasar Kepulauan Seribu yang justru takut apabila pulau tempat kelahirannya penuh dengan sampah. Perempuan itu bernama Mahariah (49).

RPTRA Tanjung Elang Berseri (Dok. Pribadi)

Dari kejauhan, langkah kaki Mahariah mulai dipercepat setelah mengetahui saya sudah sampai dengan selamat di Pulau Pramuka pada Senin (24/12). Saya menunggu sejenak di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Tanjung Elang Berseri bersama anak-anak pulau yang asyik bermain. Bersamaan dengan rintik hujan yang turun, dia mencarikan tempat yang nyaman untuk istirahat.

“Wisatawan suka datang ke sini (RPTRA Tanjung Elang Berseri). Belum sempat saya apa-apain sih. Kemarin sedang fokus mengejar kampung pro iklim dan berhasil untuk 2018,” katanya membuka percakapan.

Suasana di RPTRA Tanjung Elang Berseri, Pulau Pramuka (Dok. Pribadi)

Berbicara tentang kondisi Pulau Seribu, Mahariah tentu tahu bagaimana kisah pahit dan manisnya pulau yang ia tempati sejak lahir itu. Karang pantai yang rusak, ikan yang berkurang hingga mangrove yang tiba-tiba hilang adalah sekelumit problematika yang nyata terjadi. Belum lagi dengan permasalahan sampah kiriman dari Jakarta yang jumlahnya mencapai puluhan ton.

“Pada tahun 2003 saya ikut Forum Rembuk Warga. Intinya introspeksi diri dengan permasalahan yang ada,” kata penerima Kalpataru tingkat nasional 2017 itu.

Hasil dari forum tersebut melahirkan dua gagasan yakni menciptakan ekonomi berbasis lingkungan dan revitalisasi sitem nilai masyarakat (kearifan lokal). Implementasi konsep ekonomi berbasis lingkungan adalah membuat ekowisata dan budidaya kelautan. Sedangkan revitalisasi sistem nilai masyarakat lebih menekankan pada pola pikir masyarakat tentang lingkungan. 

Namun, mimpi buruk kembali datang. Alih-alih masyarakat lokal yang berdikari justru investor datang membawa permasalahan. Sampah pun menjadi muncul kembali di Kepulauan Seribu, termasuk Pulau Pramuka. 

Mahariah mengambil langkah baru. Dipercaya sebagai ketua SPKP (Sentra Penyuluh Konservasi Pedesaan) Samo-samo, ia melakukan tiga kegiatan strategis berupa edukasi lingkungan, pemulihan kualitas lingkungan dan ekonomi lingkungan. Hingga tercetuslah gerakan “Laut Bukan Tempat Sampah” untuk jargon di laut dan "Pulauku Nol Sampah” untuk jargon di daratan.

Perlu diketahui jika Pulau Pramuka tidak memiliki Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Di sini hanya tersedia tempat penitipan sampah sementara. Pemerintah biasanya mengangkut sampah Pulau Pramuka menggunakan kapal ke Kaliadem kemudian ke Bantar Gebang. 

Gundukan Sampah di samping Hutan Mangrove (foto: www.satu-indonesia.com)

“Biayanya untuk transportasi sampah akan lebih baik jika dialihkan untuk pendidikan. Akhirnya, kita ingin ada pemotongan jalur distribusi. Sampah tak perlu lagi diangkut ke daratan. Sampah harus selesai di pulau,” kata perempuan yang tinggal di RW 05 Pulau Pramuka itu.

Bank Sampah pun hadir untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan pada masyarakat. Dari sampah yang terkumpul, Mahariah bersama tim kecilnya mulai mencoba mengolah sampah. Sekitar 65% sampah organik berusaha dijadikan kompos, sedangkan sisanya 35% didaur ulang menjadi produk bernilai jual. 

Infografis alur bank sampah (Dok. Pribadi)

Lantas, timbul pertanyaan yang terbersit dibenak Mahariah: bagaimana memasarkan produk kerajinan tangan dari sampah itu? Pertanyaan tersebut adalah wajar karena selama ini pemasaran menjadi momok menakutkan untuk produk kerajinan sampah.

Mahariah pun mencoba bertemu dengan Femke, seorang aktivis Jakarta Animal Aid Network (JAAN), yang punya fokus sama dalam mengurangi sampah. 

“Kamu beli dulu barang-barang hasil daur ulang sambil kami perbaiki lagi kualitas produknya,” rayu Mahariah pada perempuan kebangsaan Belanda itu. 

Bersyukur, kerja sama itu masih terus berlanjut hingga sekarang. Selain dibeli Femke, kerajinan sampah juga dipasarkan di Rumah Hijau Warung Inspirasi dengan harga mulai Rp 25.000,-.

Kerajinan sampah yang siap untuk dipasarkan (Dok. Pribadi)

Mahariah mengakui jika tak mudah mengubah pola pikir masyarakat apalagi bisa menggerakan hati mau mengolah sampah. Bahkan, ketika Ibu satu anak itu mencoba melakukan aksi menanam mangrove, justru respon tak mengenakan dari masyarakat sekitar yang ia terima.

“Ngapain kalian nanam mangrove, dulu juga ditebang,” kata Mahariah menirukan pernyataan kontra dari masyarakat. “Banyak nyamuk, ular, dan stigma negatif lainnya,” imbuhnya.

Meski demikian, misi untuk menjadikan “Pulauku Nol Sampah” tak berhenti begitu saja. Justru gerakan cinta lingkungan terus digelorakan di pulau seluas 16,73 hektar ini. Pulau yang memang tergolong kecil diantara pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu. Namun, punya beban ekologis yang sangat berat karena multifungsi.

“Saya ngasih contoh aja sih. Saya tinggal di sini. Masyarakat sudah tau bobroknya saya. Semua orang tahu karena pulaunya sempit ya orangnya itu-itu saja,” kata perempuan yang sudah 15 tahun mengampanyekan aksi lingkungan itu. 

Konsistensi Mahariah dalam memberikan contoh baik mulai berbuah manis. Perlahan namun pasti mulai banyak warga menanam mangrove dan dijual kepada wisatawan sebagai atraksi menanam mangrove. Di bawah mangrove pun kini tumbuh ekosistem baru seperti ikan-ikan kecil dan kepiting. Masyarakat pun mulai sadar untuk tidak membuang sampah ke laut.

“Selagi tidak merusak dan menguntungkan diri sendiri, yang penting jalan dulu. Konsisten. Mula-mula satu atau dua orang ikut kemudian yang lain ikutan,” kata guru SD di Pulau Panggang tersebut. 

Dari Mahariah, saya belajar jika semangat cinta lingkungan itu menular. Menjadi tidak berlebihan jika saya menyebut Mahariah sebagai local champion di Pulau Seribu karena berhasil menularkan semangat cinta lingkungan.

Mahariah memamerkan sertifikat kampung iklim utama (Dok. Pribadi)

“Mungkin bisa jadi secara verbal bilang tidak terlibat, tapi perilakunya terlibat gitu. Yang terpenting buat saya perubahan perilaku. Bukan soal mengklaim dia ikut saya atau bagaimana. Dia melakukan apa yang saya lakukan (menduplikasi) itu tidak masalah. Saya tidak harus jadi pemimpin yang harus disakralkan,” ujarnya lirih bersamaan dengan rintikan hujan yang mulai membesar.

Kefasihan lidah Mahariah dalam menjelaskan ihwal lingkungan seringkali membuat orang mengira jika Mahariah lulusan teknik lingkungan atau budidaya kelautan. Namun siapa sangka justru latar belakangnya adalah pendidikan guru agama. Ia Meraih gelar sarjana 2008 setelah sebelumnya memilih untuk bekerja sambil kuliah. 

“Buat saya, mengaji bukan hanya membaca lembar ayat-ayat (tekstual), tapi juga kauniyah (kontekstual). Belajar aja bertahap dengan banyak baca buku juga,” kata lulusan Sekolah Tinggi Agama Islam Shalahuddin Al Ayyub Jakarta ini.

Gayung bersambut, seiring dengan kiprah Mahariah yang konsisten mengabdikan dirinya untuk lingkungan, PT Astra International Tbk mulai meliriknya dalam rangka tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR). Meski demikian, Mahariah begitu selektif memilih korporasi yang ingin bekerja sama dengannya. Pasalnya, ia tak ingin relasi hanya sebatas uang kemudian hilang tanpa ada kelanjutan. 

“Sebenarnya Pulau Pramuka ini banyak duit. Bagaimana tidak? CSR dari berbagai perusahaan tumpah ruah di Pulau ini. LSM dengan bawa konsep program saja bisa dapat uang. Tapi ya kebanyakan CSR datang sekali terus hilang. Kalian seperti itu nggak? Mengubah mindset masyarakat susah lho,” tanya Mahariah kepada PT Astra International Tbk pada tahun 2015. 

Akhirnya, Astra dan Mahariah mencapai titik kesepakatan. Yang diinginkan adalah kemandirian dan pemberdayaan masyarakat. Masyarakat tidak boleh bertumpu tangan dan menjadi ketergantungan. Empat pilar kontribusi sosial Astra berkelanjutan terdiri dari pilar kesehatan, pendidikan, lingkungan dan kewirausahaan pun dicanangkan dalam Kampung Berseri Astra (KBA) Pulau Pramuka.

“Kalian cukup kasih stimulan. Biar warga yang melakukan agar mandiri dan tidak bergantung,” tegas Mahariah.

Semangat Ibu-ibu dalam membuat kerajinan dari sampah (foto: www.satu-indonesia.com)

Mahariah hanya akan meminta bantuan Astra apabila memang sudah tidak bisa sendiri dan yang dibutuhkan pun hal-hal yang berkaitan dengan softskill (pendampingan atau pelatihan) bukan uang.

“Jangan dikasih uang, kasih pancing. Jadi mereka bisa mancing, cari ikan sendiri, jangan kasih ikannya. Kalau kasih ikannya, besok habis,” jelasnya.

Pola pikir Mahariah sejalan dengan CSR Astra yang tidak serta merta memberikan bantuan berupa fresh money. Mengutip dari buku yang ditulis Yakub Liman berjudul ASTRA on becoming Pride of the Nation, menjelaskan jika program CSR Astra tidak ditunjukan sebagai kegiatan amal, namun menumbuhkembangkan potensi masyarakat yang berdampak strategis bagi pertumbuhan ekonomi lokal.

“Saat kami mau merintis Koperasi, kita minta didatangkan ahli dari Astra. Begitu pun dengan bidang pendidikan, beberapa guru PAUD kami mendapatkan pembekalan di Institut PAUD Astra. Selain itu juga ada beasiswa lestari bagi siswa yang tidak mampu tapi berprestasi. Bagi saya, pendidikan memang pintu masuknya perubahan,” kata penerima Kalpataru tingkat provinsi 2016 tersebut.

Angin laut semakin berhembus kencang, saya kemudian diajak Mahariah untuk berjalan berkeliling Pulau Pramuka. Sepanjang perjalanan, saya mencoba menggali informasi tentang jejak berseri di pulau ini.

Contoh rumah berseri milik Hastuti yang mendapatkan bantuan Astra berupa komposter, penampung air hujan dan lubang biopori (Dok. Pribadi)

“Satu hal yang saya suka dari Astra,” Mahariah berhenti sejenak. 

“Program-program Astra itu sifatnya apresiatif. Tidak hanya diadakan perlombaan antar KBA saja, namun dengan didatangi oleh para media seperti ini bagi kami adalah bentuk apresiatif. Itu penting karena menjadi corong ke luar yang barangkali kami tidak sempat mempublikasikan,” tuturnya.

Kami melanjutkan langkah menyusuri Pulau Pramuka. Tak usah kaget jika menemukan pohon sukun tubur subur di sini. Apalagi baru saja mendapatkan rekor muri 2018 menanam seribu sukun. Masyarakat biasanya mengolah buah sukun menjadi keripik. Selain keripik sukun, masyarakat Pulau Pramuka juga tersohor dengan kelezatan sambal terinya. Keduanya merupakan produk andalan masyarakat di KBA Pulau Pramuka. Sejauh ini sudah dipasarkan di Nusa Keramba karena konsumen (pasar) di sana menengah ke atas.

“Astra juga membantu dalam hal pemasaran melalui program AKU BISA. Mereka juga turut membantu memasarkan produk lokal buatan masyarakat Pulau pramuka (keripik sukun dan sambal teri). Harapannya produk UMKM tersebut bisa tembus ke supermarket,” katanya. 

Mahariah juga memikirkan bagaimana sebuah konsep ekonomi masih berkaitan dengan lingkungan. Munculah ide berupa program Edutrip. Sebuah program belajar dan saling berbagi ihwal pengelolaan sampah menjadi produk yang bernilai jual. Bahkan sampah yang dibawa oleh peserta Edutrip langsung bisa diolah di tempat. Peserta bisa datang langsung ke Pulau Pramuka secara langsung atau Mahariah dan tim yang mendatangi lokasi peserta.

“Paling jauh dari Palu. Mereka pernah datang ke sini. Kebetulan yang datang aktivis lingkungannya. Jadi kita saling belajar bersama, kemudian ilmu yang sudah didapat di sini ditularkan ke masyarakat Palu,” kata Mahariah. 

Urban farming dan beberapa ecobrick yang siap digunakan (Dok. Pribadi)

Sampah-sampah plastik yang sudah sulit untuk didaur ulang dapat dijadikan ecobrick. Ecobrick adalah sampah botol plastik yang dijejalkan cacahan sampah plastik hingga padat kurang lebih beratnya mencapai 250 gram untuk botol 600 ml dan 600 gram untuk 1500 ml. 

“Ecobrick ini bisa menjadi pengganti batu bata,” jelasnya sambil mencoba kekuatan ecobrick

Untuk ecobrick 600 ml nantinya akan dibeli Rp 750 selanjutnya dijual Rp 1.200, sedangkan untuk 1500 ml dibeli dari nelayan atau masyarakat Rp 1.500 dan akan dijual seharga Rp 2.000.

Niat saya menyusuri setiap Pulau Pramuka belum terhenti. Kali ini, saya diajak untuk mampir ke Wisata Hutan Mangrove. Di tempat ini, jenis mangrove yang ditanam adalah Rhizopra Sp. Ikan-ikan kecil bisa terlihat jelas karena jernihnya air laut.

“Di sana, ada penangkaran penyu sementara,” ucap Mahariah sambil menunjuk ke tengah laut.

“Astra (Daihatsu) membangun sarana penangkaran penyu sisik. Nantinya, orang bisa melihat habituasi di darat karena akan dibuat penetasan semi alami. Itu untuk melindungi predator terutama manusia yang tidak bertanggung jawab,” lanjutnya.

Konservasi penyu sisik di Pulau Pramuka (Dok. Pribadi)

Upaya untuk membangun sarana pusat penetasan, pembesaran dan pelepasliaran adalah bentuk upaya Astra dalam rangka melestarikan penyu sisik yang terancam punah karena ancaman manusia. Mengingat di kawasan ini pernah marak perburuan penyu sisik.

Selain Mahariah, ada sosok lain yang juga menjadi gelombang ombak semangat di Pulau Pramuka. Dialah Titin (47), perempuan yang kala itu datang dengan tergesa-gesa untuk membuka Kantor RW 04 Kelurahan Panggang, Kepulauan Seribu. Kiprahnya lebih banyak di bidang kesehatan.

“Setiap tanggal 27 di sini dipakai untuk posyandu. Awalnya kami melakukan penimbangan dan pengukuran di jalanan, kemudian pindah ke rumah saya dan sekarang di balai RW sini,” ungkap Titin.

Meski dinding Balai RW 04 ini hanya terbuat dari bata setengah dan atapnya kerap kali bocor, tak menyurutkan niat Titin untuk mengampanyekan seputar kesehatan seperti pos gizi, jemantik dan pemberian makanan tambahan demi mendukung masyarakat sehat.

Titin saat ditemui di Balai RW 04 Kelurahan Panggang (Dok. Pribadi)

“Dua bulan lalu Astra datang untuk pemeriksaan PMT (penyakit tidak menular) secara gratis. Warga sangat antusias,” kata Titin dengan semangat.

“Bulan ini (27 Desember 2018) Astra rencananya akan datang lagi,” imbuhnya.

Tentu perjuangan Mahariah, Titin serta masyarakat di Kampung Berseri Astra Pulau Pramuka dalam mewujudkan “Pulauku Nol Sampah” belum usai. Program kelas Iklim dan rumah hijau terus dilakukan. Mereka juga berharap pada anak-anak pulau sebagai generasi masa depan agar semakin mencintai pulaunya sendiri. 

“Saya tak ingin mereka jadi asing di pulaunya sendiri,” harap perempuan yang ingin melanjutkan studi S2 Manajemen Lingkungan.

Perjuangan mewujudkan Pulauku Nol Sampah terus berlanjut (Dok. Pribadi)

Akan menjadi sebuah ironi jika semua cita-cita anak pulau berkaitan dengan daratan. Apalagi Indonesia ingin menuju Negara Maratim, bukankah lucu apabila anak pantainya semua bekerja di darat? Saya tak bisa membayangkan betapa sedihnya Mahariah jika hal itu terjadi.

Gelombang ombak semangat kiranya akan terus membesar di Pulau Pramuka. Kehadiran Astra layaknya angin kencang yang senantiasa berhembus ke daratan bersamaan dengan ombak. Kiprah Mahariah dan masyarakat KBA Pulau Pramuka ini selaras dengan filosofi Astra butir pertama Catur Dharma yakni menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara


Pada akhirnya, Mahariah dan masyarakat di KBA Pulau Pramuka membuktikan jika semangat cinta lingkungan itu akan menular. Memang bukan perkara gampang mengajak masyarakat menuju kebaikan. Selama sinergi dan konsistensi terus terjaga, hasilnya pun akan selalu ada. Semoga menginspirasi dan menebar semangat untuk kampung-kampung Indonesia lainnya.

*) Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Anugerah Pewarta Astra 2018

Tidak ada komentar

Jika berkenan, sila beri komentar. Jangan bosan mampir di blog ini. Salam sukses selalu untukmu!

Diberdayakan oleh Blogger.