TRIP TOURISM & SUNRISE ALA GUNUNG BUDEG TULUNGAGUNG

Gunung budeg Tulungagung


 Gunung Budheg, Apa itu gunung budheg? Apakah gunung yang tuli dan tidak dapat mendengar? Pertanyaan itu mungkin saja muncul ketika mendengar nama gunung Budheg (tuli). Gunung Budheg ini terletak di Ds. Tanggung Kec. Campurdarat Kab. Tulungagung. Menurut beberapa kutipan sejarah, yakni dari babad Kabupaten Tulungagung, dahulu di lereng gunung ini tinggallah seorang janda bernama Mbok Rondho bersama anak semata wayangnya Jaka Bodho. Suatu hari saat Mbok Rondho sedang keluar rumah selama beberapa hari, ada seorang puteri cantik jelita bertamu ke rumah Jaka Bodho. Puteri cantik itu bernama Rara Ringgit/Rara Kembangsore yang merupakan puteri dari Adipati Bethak-Bedalem. Al Kisah Rara Kembangsore saat itu sedang dalam pengejaran prajurit karena tidak mau dijadikan permaisuri oleh pamannya sendiri yakni Adipati Kalang yang telah menggulingkan ayah Kembangsore dari kekuasaannya.
Menurut cerita dari berbagai sumber, Rara Kembangsore dikenal ramah dan berbudi luhur. Ia juga dicintai oleh para kawulo alit. Tidak terkecuali Jaka Bodho, sejak pertama kali Rara Kembangsore datang dan berlindung di rumahnya ia sudah merasa jatuh cinta dan ingin menjadikan Kembangsore sebagai istrinya. Ia pun menyampaikan keinginannya tersebut kepada Kembangsore. Kembangsore tidak ingin menyakiti perasaan Jaka Bodho yang telah menolongnya, ia pun mencari akal agar ia bisa menolak maksud Jaka Bodho tanpa menyakiti perasaannya. Akhirnya Kembangsore memberi syarat kepada Jaka Bodho, jika Jaka Bodho mampu berpuasa bisu selama 40 hari 40 malam sambil nyunggi cikrak (red; menaruh tempat sampah di atas kepala) maka ia akan menerima lamaran Jaka Bodho dan mau menjadi istrinya. Jaka Bodho pun menyanggupi permintaan Rara Kembangsore saat itu juga.
Beberapa hari kemudian, Mbok Rondho pulang dari kepergiannya. Karena rindu kepada anaknya, ia pun menyapa dan bertanya kabar kepada anaknya. Namun setelah beberapa kali Mbok Rondho melontarkan pertanyaan kepada Jaka Bodho dan tidak mendapat jawaban sama sekali akhirnya Mbok Rondho menjadi kesal atas tingkah laku anaknya, lalu ia mengucapkan “Bocah ditakoki wong tuwo kok meneng wae, budheg kaya watu” (Red; Anak ditanya orang tua kok diam saja, tuli kayak batu). Dari perkataan Mbok Randha itu tiba-tiba Jaka Bodho berubah menjadi batu seakan ada kutukan. Mbok Randha menyesali ucapannya yang tiba-tiba menjadi kenyataan itu. Namun nasi telah menjadi bubur. Untuk menghilangkan penyelasalannya maka batu itu dipindahkan ke atas gunung yang sekarang disebut sebagai Gunung Budheg (red:tulidalam jawa). Dan ada pula yang menyebut “Gunung Cikrak karena bentuk batu tsb menyerupai cikrak (alat untuk membuang sampah).
Itulah sekelumit kisah asal usul nama Gunung Budheg, dan hari ini ada kisah lain di balik bongkahan batu besar itu. Gunung Budheg kini telah menjadi tempat wisata alam yang menarik. Kita dapat menikmati sensasi matahari terbit dari puncak gunung ini lo. Bagi para pecinta alam, coba dan nikmatilah pesona dari alam dari puncak gunung ini. Anda akan menemukan suasana yang berbeda dari puncak gunung lainnya.
Medan pendakian gunung ini tidak terlalu sulit karena gunung ini merupakan gunung berbatu dan bukan gunung yang besar (pegunungan). Pendaki tidak usah takut tersesat, karena setiap jalan yang dilalui pasti akan sampai ke puncak. Saat pendakian, pendaki mungkin saja akan bertemu dengan beberapa kawanan kera yang hidup di atas gunung, tapi tidak usah panik, kera itu tidak akan menyerang selama kita tidak mengganggu mereka. Pendakian menuju puncak gunung hanya memerlukan waktu antara 30 menit sampai 1 jam saja.

Baca juga Pengalaman Mendaki Gunung Pertama Kali

Di lereng gunung ini pun telah dibangun beberapa fasilitas. Ada gubug untuk berteduh, MCK, camping ground bagi pendaki maupun para scouters, tempat out bond bagi pelajar, pembibitan tanaman bagi pecinta alam, dan lain sebagainya. Pembangunan tempat ini diprakarsai oleh seorang Dokter benama Agus, yang tempat tinggalnya tidak jauh dari Gunung Budheg ini. Semangatnya untuk menghijaukan kembali lokasi gunung Budheg ini patut kita contoh. So, bagi para climber jangan lewatkan untuk mendaki tempat ini ya? Anda akan bertemu dengan sosok manusia yang amat mencintai lingkungan, dan anda akan merasakan nuansa sunrise bak di gunung Bromo, setali tiga uang. See you_

Penulis : Atik khasanah dan Abdul Mukhosis

Tidak ada komentar

Terima kasih sudah berkomentar. Salam sukses selalu untukmu! Jangan bosan mampir di blog ini.

Diberdayakan oleh Blogger.