#BukaInspirasi dari Gang Dolly

Sampean (kamu) mau nyari cewek ya, Mas?”

Saya langsung terkejut dengan obrolan pembuka dari pemilik warung kopi di eks lokalisasi Dolly. Sebut saja namanya Sulastri. Usianya sekitar 53 tahun. Uban dirambutnya sudah hampir sempurna. Dari gerobak berukuran sekitar dua meter, ia memanfaatkan bagian depan rumah yang kosong untuk berjualan aneka gorengan, jajanan ringan dan kopi seduhan. "Kalau hari Minggu biasanya ramai. Ini nanti ada babak final lomba futsal," katanya sembari menyeduhkan kopi.

Traveling ke Gang Dolly
Mula-mula saya bersama teman sedang jalan-jalan di Jalan Kupang Gunung Timur I Surabaya atau disebutnya Gang Dolly. Di tempat ini dulunya berdiri megah wisma, tempat karaoke, dan hiburan yang kerap jadi tempat prostitusi. Itu dulu. Kemudian sejak Juli 2014 lalu, Bu Risma (Wali Kota Surabaya) telah menutup lokalisasi ini meski dengan berbagai ancaman dan konsekuensi yang ada. Bu Risma sendiri percaya jika masyarakat sekitar masih bisa mencari pekerjaan lain yang lebih baik.

Sekarang beberapa wisma nampak tak berpenghuni dan sebagian lagi sudah rusak karena tak terawat. Wisma New Barbara adalah salah satu wisma terbesar yang masih berdiri kokoh. Kini wisma tersebut bukan lagi jasa prostitusi tapi telah beralih fungsi menjadi sentra produksi sepatu kulit, sepatu sekolah dan slipper hotel.

Dalam alat produksinya, ada sekitar 15 unit mesin jahit berjajar dan 3 unit mesin pemotong bahan sepatu. Total pegawainya sekitar 20 orang, didominasi perempuan utamanya warga terdampak penutupan lokalisasi Dolly. Mereka tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) "Mampu Jaya". Meski biasanya hari Minggu mereka libur, kali ini mereka lembur untuk menyelesaikan pesanan. Terlihat mereka sangat cekatan dalam merapikan detail demi detail produk sandalnya. Rapih banget hasilnya!

Atik Trianingsih, Koordinatur KUB Mampu Jaya, mengaku senang dengan wajah baru Dolly sekarang. Produk sepatu dan sandalnya makin dikenal banyak orang bahkan hingga kewalahan mengerjakan pesanan. "PJ (Putat Jaya) Collection" menjadi merek yang disematkan untuk sepatu dan sandal karya warga di eks lokalisasi Dolly. 

sumber foto: dokumen pribadi

"Disini produksi sepatu dan sandal untuk 6 hotel di Surabaya. Kalau sandal hotel itu meskipun sedikit tapi secara kontinu. Kita setiap dua minggu harus setor sekitar lima ribu pasang, tapi belum sampai dua minggu biasanya udah pesan lagi,” ungkap Atik. Ia juga menambahkan jika KUB Mampu Jaya sudah menyuplai sandal hotel sampai ke Yogyakarta, Sorong, Manokwari, Bali, dan Kalimantan.

Baca juga: Tips Beli Sepatu Online

Berbicara masalah omset, KUB Mampu Jaya bisa mendapatkan rata-rata Rp 30-35 juta/bulan. Meski baru berjalan sekitar 4 tahun, nyatanya UKM ini telah secara nyata memberdayakan masyarakat sekitar, khususnya mereka yang terdampak penutupan eks lokalisasi Dolly. Tentunya keterampilan dalam membuat produk dan sepatu tidak didapat secara instan. Mereka dulu pernah ikut pelatihan dari BPPI langsung dan di-training selama satu bulan.

Untuk urusan promosi, usaha warga asli eks lokalisasi Dolly itu dibantu Pemkot Surabaya. Cara yang dilakukan diantara dengan menggandeng situs e-commerce Bukalapak.com. Pada 13 April 2015 lalu, Bukalapak dan Pemkot Surabaya membuka klinik online untuk para UMKM Surabaya. Ada banyak ilmu yang dibagikan seputar kiat-kiat menjual produk di Bukalapak. Dari situ banyak emak-emak yang mulai menjual produknya secara online.

sumber foto: Ram Surahman/enciety.co

KUB Mampu Jaya hanya salah satu contoh #BukaInspirasi dari eks lokalisasi Dolly. Masih ada beberapa UMKM lain di eks lokalisasi Dolly seperti tempe “Bang Jarwo”, batik “Putat Jaya”, konveksi, sablon, bandeng, manik-manik, samiler Samijaya (kerupuk singkong), minyak rambut, dan lainnya.


Mengutip dari tempo.co pada 2015 lalu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memasukkan 750 pelaku usaha kecil menengah pahlawan ekonomi (UKM PE) Surabaya di Bukalapak.com. Jumlah tersebut akan semakin bertambah seiring dengan bertambahnya waktu. Perpaduan antara kemauan untuk maju dan dukungan berbagai pihak adalah kunci eksistensi dari UMKM tersebut. Memang sudah sepatutnya UMKM Go Online bersama Bukalapak agar semakin melebarkan sayap.

Hadirnya Bukalapak sebagai marketplace sangat memudahkan setiap orang untuk menjadi wirausahawan. Tak harus mendirikan sebuah toko secara fisik untuk bisa berjualan. Dibanding membuat website sendiri, menggunakan marketplace seperti Bukalapak punya lebih banyak kelebihan seperti marketnya sudah jelas, menggunakan dana bersama, dan disupport bagian promosinya.  Cara upload barang jualan ke Bukalapak sendiri juga nggak ribet. 


Saya sendiri percaya jika Bukalapak terus berinovasi agar terus memberikan pelayanan yang lebih baik untuk pelapak dan pembeli. Jika boleh, saya ada ide untuk Bukalapak yaitu fitur #BukaVideoCall. Memang sih terkesan aneh tapi sebenarnya fitur video call nanti dapat mempermudah komunikasi antara pelapak dan pembeli. Pembeli dapat melihat langsung kondisi barang dan bertanya-tanya secara lebih maksimal. Menurut saya sih fitur ini akan membantu para pembeli yang mungkin kadang masih ragu dalam memutuskan pembelian.

***

Balik lagi ke Gang Dolly. Terlepas dari pro kontra penutupan lokalisasi yang katanya terbesar di Asia Tenggara itu, ternyata warga di Gang Dolly punya semangat untuk berkembang dan produktif. Perjuangannya dalam mencari rejeki dengan hadirnya UKM sudah sepatutnya diapresiasi. Tak banyak orang mau memulai usaha dari nol, lho. Itulah yang membuat saya salut dengan warga di Gang Dolly.

Sebagai warga negara yang baik, yang perlu kita-kita ini dilakukan adalah turut membeli produk-produk dalam negeri. Cintailah produk-produk dalam negeri karena itu bentuk upaya nyata menguatkan nilai Rupiah kita. Caranya dengan belanja produk UKM Indonesia di Bukalapak karena merdeka dari mahal.


Tak terasa kopi yang saya pesan sudah dingin. Saya terlalu hanyut dengan obrolan Bu Sulastri. Cerita yang ada di eks lokalisasi Dolly adalah salah satu #BukaInspirasi yang memicu saya sendiri khususnya untuk terus produktif dan pantang menyerah. Kalau kamu punya #BukaInspirasi versimu sendiri, bisa banget ikut kompetisi blog Bukalapak.

Gang Dolly aja bisa, kamu juga bisa!


Referensi:
  • https://www.idntimes.com/news/indonesia/fitria-madia/usaha-sepatu-warga-eks-lokalisasi-dolly-beromset-puluhan-juta-sebulan/full
  • https://komunitas.bukalapak.com/news/13729-ungtjp
  • https://bisnis.tempo.co/read/665155/ada-750-usaha-kecil-surabaya-di-bukalapak-com/full&view=ok

24 komentar:

  1. Warbiyasaaakkk. Tulisan kamu "ruh"-nya kentara bannget Nizaamm. Good job!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih apresiasinya.Masih terus belajar mbak hehehe... Cerita di dolly memang menarik nih

      Hapus
  2. Luar biasa,,, alumni mantasa ini.. Saluuut...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mas Fahmi... terus belajar hehe

      Hapus
  3. Balasan
    1. Aamiin.. Ayo ikutan juga dan download aplikasi bukalapak

      Hapus
  4. Menginspirasi semua mas, memang harusnya pelaku usaha dan UKM memanfaatkan perkembangan digital yang ada saat ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, mas. Market place kayak Bukalapak ini membantu banget para ukm ukm

      Hapus
  5. Wah hebat juga Bu Risma, mengubah sesuatu yang negatif menjadi positif, produktif dan bermanfaat buat banyak orang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mas.. Nggak mudah memang. Tapi untungnya warga Dolly mau berubah ke lebih baik

      Hapus
  6. Ini yang namanya totalitas dalam menulis ,langsung terjun ke lokasi. Auto jadi pemenangnya ini ,bareng mas Amir. Good luck ya mas...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo Mas Hendra ikutan juga. Yang menang banyak kok hehe

      Hapus
  7. hebat ini, pemberdayaan dengan UKM membuat Dolly memiliki warna lain. Semoga menang mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga UKM di Dolly makin berkembang yaaa

      Hapus
  8. wahhh inspiring banget kak ceritanya..semoga menang ya lombanya buka inspirasi bersama bukalpak..
    sukses selalu

    BalasHapus
  9. wah hebat ya, bu risma memang cemerlang bikin ide buat masarakat sana

    BalasHapus
  10. Iya mbak, Dolly yg sekarang Bukan Dolly yg dulu

    BalasHapus
  11. Dari judulnya saja sudah bisa menarik perhatian. Bisa bnget nih Mas Nizam bikin penasaran... Kereeenn.. Dolly yang dulu bukanlah yang sekarang.

    BalasHapus
  12. Uwoow... Ternyata produk dr eks gang Dolly maksuk di Bukalapak juga ya? Baru tau nih kalo sudah didigitalisasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak kayak sambel dan kripik udah bisa dibeli di Bukalapak

      Hapus
  13. Surabaya memang hebat walikotanya, bisa mengubah daerah prostitusi menjadi daerah berdikari.. Keren..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas... kemauan warganya udah berubah patut diacungi jempol

      Hapus

Terima kasih sudah berkomentar. Salam sukses selalu untukmu! Jangan bosan mampir di blog ini.

Diberdayakan oleh Blogger.