BULUTANGKIS INDONESIA MENJADI JUARA RAKSASA DUNIA


Sudah sejak lama, Indonesia terkenal dengan Negeri Raksasa Bulutangkis. Sebagai bagian dari Indonesia, saya pun turut bangga dengan hal itu. Mungkin, tidak banyak yang tahu prestasi mendunia para legenda bulutangkis Indonesia, mulai dari Juara
Asean, Asia, Piala Thomas dan Uber Cup hingga Juara Dunia serta sederet prestasi mendunia lainya, karena itulah aku kagum akan olahraga yang selalu mengibarkan bendera merah putih di Negeri orang ini. Kumandang Indonesia Raya masih terdengar di dunia karena Bulutangkis. Harumlah nama Indonesiaku.
Dialah Bulutangkis. Begitu gemilangnya prestasi ini melegenda, memperkenalkan nama besar Indonesia sebagai raksasa hidup Bulutangkis dunia membuat hati saya tergugah membuat sekertas opini ini. Mungkin kalian tertawa dan bertanya-tanya “apa sih yang hebat dari Bulutangkis ?” palingan juga kalah dari china. Saya kira hanya orang yang kudet olahraga yang akan bertanya seperti itu.
Apakah Rakyat Indonesia bosan dengan prestasi Bulutangkis Indonesia yang mendunia ? Lupa kalau Indonesia meraih 2 Emas Kejuaraan Dunia 2013 (dari 5 gelar) di Kadang China ? Lupakah 13 kali Indonesia memboyong Piala Thomas Cup ? Lupakah Bulutangkis Indonesia raih 3 Emas, 2 Perak, 1 Perungggu dan menjadi Juara Umum Sea Games ?Atau Justru Selalu Ingat Sepakbola Indonesia Runnerup Sea Games 2013 yang kalian anggap prestasi Besar ?.
Terkadang saya merasa aneh dan heran, bagaimana bisa TV Nasional kita lebih memilih menyiarkan pertandingan Real Madrid vs Barcelona daripada Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir vs Zhang Nan/Zhao Yunlei ??? apakah ada pemain Indonesia yang menjadi pemain Real Madrid atau barcelona sampai-sampai TV Indonesia berebut hak siarnya.
Kurangkah Enam keping emas Olimpiade dan  Puluhan Gelar Juara Dunia lainya persembahan Bulutangkis ? apakah itu hanya menjadi kenangan belaka prestasi Bulutangkis negeriku. Juara Dunia, Thomas Uber Cup, Juara All England, Juara Indonesia Open, Juara China Masters, Juara Malaysia Open,  Juara Korea Open adalah sedikit dari sekian ratusan gelar juara yang didapat dari olahraga yang menggunakan raket ini.
Yang lebih memprihatinkan lagi, ketika Anak Indonesia  ditanya  “Siapa atlit Favorit kalian ?” dengan tegas dan terkagum mereka kebanyakan menjawab Lionel Messi , Neymar, Christiano Ronaldo. Bukan suatu kesalahan kalau mereka mengidolakannya, tapi benarkah tidak ada jiwa nasionalisme di hati Anak Indonesia saat ini ! Sampai mereka terlupa dengan prestasi besar Taufik Hidayat , Susi Susanti , Tontowi Ahmad atau Liliyana Natsir? Apakah Lupa dengan Juara Dunia 2005 yakni Taufik Hidayat ? Lupakah dengan Susi Susanti Peraih Medali Emas Olimpiade 1992 ? Lupakah dengan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir Hatrick Juara All England (2012-2014) ?.
            Sepakbola ???? hati saya sudah kecewa dengannya apalagi dengan kisruh di PSSI, di Hasanah Bolkiah Tropy kemarin pucaknya, Indonesia kalah. Padahal itu masih tingkat Asia Tenggara lho... Bukan Dunia !!!. Bukan salah anak Indonesia kalau mereka lupa pahlawan Bulutangkisnya, melainkan ini merupakan kesalahan besar Media Massa termasuk TV nasional. Rendahnya informasi bulutangkis yang mereka sosialisasikan kalah bersinar dengan Olahraga lain, kurangnya TV nasional akan penyiaran Bulutangkis sehingga rakyat indonesia sendiri tak bisa melihat pahlawan nya berjuang. Bukan tidak mungkin, bisa jadi di masa mendatang tak ada seorang pun atlit Bulutangkis Indonesia.
Paradigma yang salah. Ketika olahraga lain mendapatkan bantuan dana Miliyaran , justru Bulutangkis dengan mandiri mencari dana sendiri . walaupun dianggap sebagai olahraga anak tiri tapi tetaplah Bulutangkis terus menjadi pengharum nama Indonesia.
Demikianlah segelintir kisah miris diskrimasi olahraga negeri ini. Begitu luar biasa perjuangan Atlit  Bulutangkis Indonesia, tak  membuat hati masyarakat indonesia tersentuh jiwa nasionalisme. Ayo Bulutangkis Indonesia bisa !!! Buktikan Bulutangkis Kebanggaan Indonesia !!!. 


Cabang bulu tangkis sudah menyelesaikan seluruh pertandingannya di Olimpiade ke-31 di Rio de Janeiro, Brasil, Sabtu waktu setempat. Berikut daftar lengkap peraih medalinya:

Ganda campuran:
1. Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Indonesia)
2. Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia)
3. Zhang Nan/Zhao Yunlei (Cina)






Ganda putri:
1. Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang)
2. Christinne Pedersen/Kamilla Rytter Juhl (Denmark)
3. Jung Kyun Eun/Shing Cheung San (Korsel)


Ganda putra:
1. Fu Haifeng/Zhang Nan (Cina)
2. Goh V Shem/Tan Wee Kiong (Malaysia)
3. Marcus Ellis/Chris Langridge (Inggris)


Tunggal Putra :
1. Chen Long (Tiongkok)
2. Lee Chong Wei (Malaysia) 
3. Viktor Axelsen (Denmark)


Rio de Janiero – Tradisi medali emas cabang bulutangkis di olimpiade yang sempat terputus berhasil disambungkan kembali pasangan ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.
Tontowi/Liliyana berhasil menyambungkan meraih medali emas Olimpiade Rio 2016 usai mengalahkan pasangan Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, Selasa (17/8).
Tradisi emas bulutangkis di Olimpiade yang sudah diawali sejak Olimpiade Barcelona 1992 sempat terputus di Olimpiade 2012 London. Di ajang empat tahun lalu, Indonesia hanya meraih satu medali perak dan satu medali perunggu melalui cabang angkat besi.
Bulutangkis menyumbang medali pertama pada Olimpiade Barcelona 1992. Dua emas berhasil diraih lewat tunggal putri Susi Susanti dan tunggal putra Alan Budikusumah. Tidak itu saja.
Seluruh medali tunggal putra bahkasan disapu bersih tim Indonesia. Hermawan Susanto meraih perunggu. Lalu di ganda putra pasangan Eddy Hartono dan Rudy Gunawan juga meraih medali perak.
Tradisi emas bulutangkis kemudian dilanjutkan pada Olimpiade Atlanta 1996. Kali ini emas diraih pasangan ganda putra Rexy Mainaky dan Ricky Subagja. Namun penurunan prestasi dialami tunggal putri, Susi Susanti. Susi, yang merupakan juara bertahan, hanya memperoleh perunggu.
Dominasi bulutangkis Indonesia berlanjut di Olimpiade Sydney 2000. Kali ini cabor tersebut menyumbangkan emas melalui ganda putra Tony Gunawan dan Candra Wijaya. Di ganda campuran Tri Kusharjanto dan Minarti Timur meraih perak, begitu pula Hendrawan di tunggal putra.
Empat tahun kemudian, cabang bulutangkis kembali menjadi penyumbang medali. Di Olimpiade Athena 2004, tunggal putra Indonesia kembali merebut emas melalui Taufik Hidayat dan perunggu oleh Sony Dwi Kuncoro. Sementara di ganda putra, Eng Hian dan Flandy Limpele memperoleh perunggu.
Tradisi emas bulutangkis berlanjut di Olimpiade Beijing 2008. Pebulutangkis ganda putra Markis Kido dan Hendra Setiawan kali ini yang meraih emas. Sementara, di ganda campuran Nova Widianto dan Liliyana Natsir mendapat perak. Sedangkan, Maria Kristin Yulianti, andalan Indonesia di tunggal putri hanya meraih perunggu.
Prestasi atlet bulu tangkis sebagai penyumbang medali bagi kontingen Indonesia sempat terhenti di Olimpiade London 2012. Dan, Tontowi/Liliyana juara tiga kali All England berhasil menyambungkan kembali tradisi emas tersebut di Olimpiade Rio 2016.
Prestasi ini menjadi satu-satunya medali emas yang diraih kontingen Indonesia yang sebelumnya baru mampu mengumpulkan satu perak dan satu perunggu.
Iman Rahman Cahyadi/CAH
BeritaSatu.com
Tags : Minim siaran bulutangkis, tayangan bulutangkis, bulutangkis emas olimpiade, tradisi olimpiade, ahsan/hendra, tontowi/liliyana, siaran bulutangkis, kurang apresiasi, atlit bulutangkis, bulutangkis juara,


Tidak ada komentar

* Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar yang relevan dengan isi artikel
* Berikan tanda centang pada "beri tahu saya" untuk mendapat notif balasan
Terima kasih sudah mampir, ditunggu kunjungan berikutnya !

Diberdayakan oleh Blogger.