Bersua dengan Puteri Indonesia Jatim Hingga Mengintip Kampung Sepatu Osowilangun

We are back!

Para rombongan Blogger Goes to Teluk Lamong masih diberikan kesempatan untuk menjejakkan kaki di green port pertama di Indonesia ini. Berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini ada tamu spesial dari luar Teluk Lamong yang berkesempatan hadir di tengah kami. Umurnya tidak terpaut jauh denganku. Hanya selisih dua tahun lebih tua saja. Dia mengenakan sebuah selempang, mahkota di kepala dan tingginya sekitar 175 cm. 

Yap.. Benar sekali. Puteri Indonesia Jatim 2017!

mencari kesempatan dalam kesempitan

Saya menampar pipi sendiri. Masih tidak percaya, takut ini hanya sebuah mimpi. Dulunya hanya melihat di televisi, youtube dan media sosial, namun kini dapat melihat secara langsung.

Namanya seperti wajahnya, Fatma Ayu Husnasari (yang pakai mahkota). Doi berasal dari Blitar, Jawa Timur. Mahasiswi jurusan hukum ini memiliki passion dalam bidang speaking dan modeling loh.

Fun fact, aku dan doi sama-sama kode plat AG dan mahasiswa Universitas Airlangga.
Wahh.... Apakah ini yang namanya jodoh? *plakkk*

Para perempuan ini tidak hanya cantik secara fisik tapi juga punya kecantikan pengetahuan yang tidak bisa dianggap remeh temeh. Menyandang sebagai Puteri Indonesia Jatim, tugas mereka tidak hanya fokus dalam masalah pariwisata tapi juga memperkenalkan aset bangsa Indonesia, seperti Teluk Lamong ini.
Hadirnya para Puteri Indonesia Jatim didasari atas kekepoan yang melanda mereka. Penasaran seperti apa sih pelabuhan yang katanya green port nomor wahid di Indonesia dan bagaimana kecanggihan teknologi yang diusung sehingga bisa semi otomatis.

Selain itu, diharapkan Puteri Indonesia Jawa Timur punya kontribusi nyata dalam upaya memperkenalkan dan membranding Teluk Lamong. Tidak ada kata terlambat untuk memperkenalkan aset bangsa ini kepada masyarakat secara luas. Setuju!?

boleh nggak ya pinjam mahkotanya?

Sesi sharing berlangsung secara mengalir dan cair. Para blogger bergantian melepar pertanyaan kepada Puteri Indonesia Jatim 2017. Dengan kapasitas intelektual yang ada, tidak ada kesulitan bagi para doi dalam membabat habis pertanyaan. 

Saya hanya mengangguk, menyimbukkan diri dengan mengambil foto sebanyak-banyaknya. Kesempatan langka harus dimaksimalkan.

Setelah sesi sharing selama kurang lebih satu jam, maka saatnya kita langsung menuju ke lapangan.  Mereka sudah tidak sabar menyaksikan bagaimana penampakan pelabuhan Teluk Lamong. Yey...! 


"Waowww...," begitulah celoteh berkali-kali yang terucap dari Fatma Ayu Husnasari. 


Mendengar itu, saya malah tidak sanggup menahan tawa. Mungkin si doi reflek karena baru pertama kali berkunjung ke terminal canggih ini.


Saat berada di tower Automated Stacking Crane (ASC), Puteri Indonesia 2017 diperlihatkan bagaimana kecanggihan teknologi bongkar muat di Terminal Teluk Lamong. Pada ruangan tesebut bisa terlihat dengan nyata perpindahan peti kemas yang dilakukan menggunakan komputer dan stick penggerak berdasarkan layar monitor.

Kecepatan dan ketepatan pelayanan dapat dilakukan karena ASC dapat melakukan perpindahan petikemas secara otomatis melalui sistem. Saking canggihnya teknologi yang digunakan, semua orang dengan singkat dapat menggerakkannya.


Dengan kecanggihan tersebut, maka dwelling time semakin singkat rata-rata hanya 3 hari saja. Hal inilah yang menekan angka inefiensi. Semakin efisien tentu akan menghemat anggaran hingga memotong biaya logistik.

Apalagi Terminal Teluk Lamong ini beroperasi 24/7 jam, artinya 24 jam selama seminggu terus melayani jasa kepelabuhan dengan fokus di bidang petikemas dan layanan bongkar muat curah kering. Penasaran nggak bagaimana keseruan Blogger Goes to Teluk Lamong? Simak video berikut ya rek...


Sebagai sebuah perusahaan yang memiliki tanggung jawab sosial, maka PT Pelindo III melalui anak perusahaan PT Teluk Lamong melakukan Corporate Social Responsibility (CSR). Istilah tersebut sudah tidak asing di telinga karena kebetulan saya ada mata kuliah Dasar Public Relations dan Program Perencanaan Public Relations. 

CSR lebih baik daripada filantropi karena yang sifatnya hanya konsumtif, sedangkan CSR sifatnya berkelanjutan dan memberdayakan. Langkah untuk ber-CSR menjadi tepat karena pada dasarnya masyarakat sekitar (community) adalah stakeholder yang memiliki legimasi sosial. Tanpa dukungan dari mereka, tentu PT Teluk Lamong tidak akan bisa eksis sampai sekarang. Hubungan inilah yang terus dipertahankan sampai sekarang.

Beruntung sekali, kami berkesempatan untuk mengintip Kampung Sepatu di Tambak Osowilangun. Menariknya, pada kampung ini membuat sepatu sudah menjadi keahlian turun temurun dari generasi ke generasi. Namun, kendala yang dihadapi adalah sulitnya membeli alat produksi yang harganya puluhan juta.


Hingga pada akhirnya PT Pelindo III melalui anak perusahaan PT Terminal Teluk Lamong memberikan pelatihan dan bantuan berupa 13 mesin jahit, 5 unit mesin press sepatu, compressor hingga renovasi koperasi sepatu guna mempermudah masyarakat dalam mendapatkan pinjaman.

"Biasanya hasil penjualan sepatu, misalnya 30 juta, itu dalam bentuk check. Harus dicairkan dulu. Tapi dengan adanya bantuan koperasi Teluk Lamong, kita dapat meminjam dengan bunga rendah," kata Bpk Syaikhu, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK Osowilangun).

Harga sepatu juga sangat terjangkau mulai dari Rp 350.000/kodi. Produksi sepatu ini tidak hanya dipasarkan di Surabaya, tapi juga sudah sampai Solo, Bali hingga Kalimantan. Keren ya! Semoga semakin banyak bantuan sarana dan prasana agar produksi sepatu di sana tetap eksis. Kami pun para blogger siap membantu dalam pemasaran.

Tepat adzan ashar berkumandang, kami harus mengakhiri petualangan ini. Sebuah perjalanan kaya ilmu dan pengalaman yang tidak bisa dinilai dengan uang.


Terima kasih kepada Ibu Dothy (Dirut TTL), Mas Reka Yusmana (Humas) dan seluruh keluaga besar PT Terminal Teluk Lamong yang telah memberikan ruang dan waktu bagi kami. Menyambut kami dengan hangat dan ramah. 

Sampai di sini, mungkin inilah yang dinamakan menghabiskan libur kuliah secara berfaedah. Apalagi di sini banyak kutemukan serpihan-serpihan filosofi yang penuh makna kehidupan. Begitu dalam dan menohok.

"Ayo kita berkontribusi secara online dan offline,"
- Ibu Dothy, Dirut PT Terminal Teluk Lamong.

Tak lupa saya ucapkan selamat ulang tahun untuk PT Terminal Teluk Lamong yang akan genap berusia empat tahun per 30 Desember 2017. Semoga menjadi inspirasi pelabuhan lain di Indonesia dan semakin GREAT! 

***

Artikel sebelumnya: Day 1 Blogger Goes To Teluk Lamong

9 komentar:

  1. seru banget zaam!! jadi pengen :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, Teluk lamong sangat welcome kok kalau ada yang mau kepo.. Udh banyak universitas yang datang ke sana loh..

      Hapus
  2. apa rasanya satu lift bareng cewe cantik itu nizam? XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. tegang, koh! haha kurang lama di liftnya haha

      Hapus
  3. NIZAM MENANG BANYAAAAAKKK!
    Sungguh tante sangat bangga padamu, wahai anak muda!
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aahaha, makasih tante... Doakan makin pinter dan sholeh yaaa :))

      Hapus
  4. Ciee plat nya sama2 AG...

    Sikat zam wkwkwkwk

    BalasHapus
  5. bu dhoty emang keren....ayo yg cowok jangan sampai kalah ya

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.